langitanmabin@gmail.com

Kasih Sayang Kepada Sesama Makhluk

Kasih Sayang Kepada Sesama Makhluk

Dari Abdullah bin Umar Ra. Ia berkata, “ Rasulullah Saw. bersabada

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang suka menyayang, mereka itu akan dikasihani oleh Yang Maha Pengasih. Kasihanilah siapa yang berada di bumi, niscaya kamu akan dikasihani oleh yang berada di langit.”

Perihal yang sesuai dengan Hadis ini ialah hikayat yang diriwayatkan Umar Ra. bahwa ia sedang berjalan di Madinah, lalu melihat seorang anak memegang seekor burung kecil sambil mempermainkannya. Umar kasihan kepada burung itu lalu dibelinya kemudian dilepaskannya.

Tatkala Umar Ra. meninggal dunia, banyak orang melihatnya dalam mimpi dan menanyakan keadaannya dalam itu, “Apakah yang dilakukan Allah padamu?” Umar menjawab.”Allah mengampuni dan memaafkan aku.”

Orang-orang itu bertanya,” dengan apa engkau mendapatkan ampunan itu, apakah dengan keadilan atau dengan kezuhudanmu?” Umar menjawab. “tatkala kalian masukan aku di dalam kubur dan menutupiku dengan tanah, kalian tinggalkan aku sendirian. Kemudian datang dua malaikat yang menakutkan, sehingga hilang akal dan gemetar persendianku lantaran kewibawaan mereka. Keduanya memegang, mendudukan dan ingin menanyaiku. Ku-dengar dari suara gaib “Tinggalkan hamba-ku dan jangan menakutkanya, Aku telah mengasihani dan memaafkannya sebab ia mengasihi burung ketika di dunia sehingga Aku mengasihi di akhirat.”

Cerita lain, adalah seorang ahli ibadat dari bani israil lewat di suatu gundukan tanah. Saat itu bani israil ditimpa kelaparan. Ia bercita-cita dalam hati, seandainya tanah itu berbah menjadi tepung, niscaya bisa mengenyangkan perut bani israil. Kemudian Allah mewahyukan kepada salah seorang nabi mereka (Bani Israil), “katakanlah kepada si fulan, bahwa Allah Swt. telah memberikan pahala bagimu seperti andaikata tanah itu berubah menjadi tepung lalu engkau bersedekah dengannya.”

Barangsiapa mengasihi hamba-hamba Allah, niscaya Allah Swt. mengasihinya, karena hamba-hamba itu tatkala mengasihi hamba-hamba Allah dengan perkataannya:”Andaikata tanah itu berubah menjadi tepung niscaya bisa mengenyangkan orang-orang, maka ia pun akan mendapatkan pahala sebagaimana apabila dilakukannya.”

Mengejar gelar hafidz

Mengejar gelar hafidz

Kesalahan pertama yang paling fatal bagi seorang penghafal al Qur’an adalah terkait niat dan ke ikhlasan. Jika niatnya dalam menghafal alQur’an salah serta keikhlasannya benar-benar tidak ada, sebesar dan sebanyak apapun keutamaan menghafal al Qur’an menjadi sesuatu yang tak bernilai baginya di akhirat. Salah satu bentuk ketidak ikhlasan seorang penghafal al Qur’an adalah ia hanya mengharap pujian dari orang lain, berharap orang lain menghormati dan menyanjungnya, atau menyebut-nyebut dengan gelar hafidz al Qur’an.

Hal yang pertama yang harus diperhatikan oleh seseorang sebelum menghafal al-Qir’an adalah mengikhlaskan niatnya semata-ata karena Allah Swt. Al Qurthubi (w. 671 H) di dalam tafsirnya Al Jami’ li Akam Al Qur’an menyatakan, yang artinya:

“Hal pertama yang harus diperhatikan oleh shahibul Qur’an adalah mengikhlaskan niat dalam mempelajari Al-Qur’an, yaitu samata-mata karena Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana telah kami sebutkan. Dan hendaknya ia mencurahkan jiwanya untuk membaca dalam sholat maupun di luar sholat, agar ia tidak lupa”.

Jika kita menghafal al-Qur’an karena ingin dipuji-puji oleh manusia, sebenarnya kita sedang beramal dengan amalan yang besar tetapi tidak memiliki pahala apa-apa dihadapan Allah swt. bahkan, hal itu membuat kita berdosa serta terancam siksa-Nya. Imam An Nawawi (w. 676 H.)- di dalam al Minhaj syarh Shahih Muslim Ibnu Al-Hajjaj menyatakan “Amalan seseorang yang hanya menginginkan pujian dari yang lain adalah amalan yang batil, tidak berpahala bahkan akan mendapatkan dosa”.

Sekalipun menghafal al-Qur’an adalah amalan yang mampu mengantarkan seseorang menuju surga-Nya, tapi jika tidak dibarengi dengan keikhlasakan niat semata-mata karena mengharap ridha Allah Swt., jangankan ia dapat masuk kedalam surga, bahkan mencium baunya saja tidak mampu.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Rasulullah bersabda Saw.pernah bersabda “Siapa menuntut yang semestinya ditujukan untuk mengharap keridhaan Allah, tetapi ia memperlajarinya hanya untuk meraih tujuan duniawi, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat” (Hr Abu Dawud no.3179)

Seseorang bisa-bisa saja merasa sudah ikhlas dalam menghafal Al-Qur’an. Namun, jika didalam hatinya masih ada harapan untuk dipuji-puji, atau masih tersimpan keinginan untuk dihormati karena Al-Qur’an yang sudah dihafalanya, sebenarnya keikhlasan tersebut terlah tersingkirkan oleh harapan dan keinginannya. Ibnal al-Qoyyuim al-Jauziyyah (w. 751 H) di dalam al Fawaid mengatakan “Iklas di dalam hati seseorang tidak mungkin menyatu dengan harapan akan pujian, sanjungan, dan keinginan terhadap apa yang dimiliki manusia, melainkan seperti air dengan api  yang tidak menyatu.”

Adapun seorang penghafal al-Qur’an, baik mengharapkan pujian dari orang lain maupun tidak, sebenarnya, pujian itu memang pantas didapatkan. Betapa tidak, amalan menghafal al-Qur’an adalah amalan yang istimewa, dan setiap mukmin pasti mengingingkannya. Namun, jika tujuannya hanya untuk mendapatkan pujian dari manusia, ia hanya akan mendapakan pujian tersebut tanpa pahala dari Allah Swt.  berbeda jika tujuannya ikhlas, hanya karena Allah, selain berhak mendapatkan pujian dari makhluk-Nya, ia juga akan mendapatkan pujian sekaligus pahala kebaikan yang berlimpah dari Rabbnya.

Kita harus menjaga hati ketika banyka orang lain memuji karena amalan yang kita lakukan. Ibn ‘Ajibah (w. 1224 H.)- di dalam Iqazl al-Himam fi Syarh al-Hikam mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memujimu tidaklah mengetahui dirimu kecuali yang nampak, sementara engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada Ulama yang mengatakan “Siapa yang begitu senang dengan pujian manusia, maka setan akan merasuk kedalam hatinya”.

Mengejar gelar hafidz

Makhorijul Huruf

PELAJARAN Ke-II

MAKHORIJUL HURUF

Salah satu perbedaan tilawah antara seseorang dengan lainnya, sanat bergantung pada fasih dan tidanya pengucapan huruf dari pembaca itu sendiri.

Untuk itu perlu untuk dipelajari dan diketahui tempat-tempat keluarnya hurf dan sifat-sifatnya.

Secara bahasa makhroj ialah tempat keluar. Sedang menurut istilah makhroj ialah suatu nama tempat, yang padanya huruf dibentuk (diucapkan).

Mengetahui makhroj suatu huruf, hendaklah huruf tersebut disukunkan atau ditasydidkan, kemudian di tambahkan satu huruf hidup di belakangnya. Contoh

با – ابا – اب

Tujuan mengetahui makhorijul huruf agar pembaca bisa terhindar dari hal-hal sebagai berikut

  1. Kesalahan mengucapkan huruf yang mengakibatkan berubah makna
  2. Ketidakjelasan bentuk-bentuk bunyi huruf, sehingga tidak bisa dibedakan antara huruf satu dengan huruf yang lain.

Menurut Syekh Ibnu Jaziriy, Makhorijul huruf itu dibagi menjadi tujuh belas, ketujuh belas makhroj tersebut berada pada 5 tempat yaitu

  1. Kelompok rongga mulut dan tenggorokan (satu makhroj huruf)
  2. Kelompok tenggorokan (3 makhroj huruf)
  3. Kelompok lidah (10 makhroh huruf)
  4. Kelompok dua bibir (2 makhroj huruf)
  5. Kelompok pangkal lidah (1 makhroj)

Dengan rincian sebagai berikut:

  1. kelompok ronggah mulut dan tenggorokan

Huruf yang keluar dari ronggah huruf adalah huruf mad yaitu wawu mati, ya’ mati, dan alif

  1. Kelompok tenggorokan

Huruf yang keluar dari tenggorokan adalah huruf Hamzah, ‘Ain, Ha, Kho, Ghoin, Hha.

Hamzah dan ha’  keluar dari tenggorokan bawah.

‘Ain dan Ha keluar dari tenggorkan tengah.

Ghoin dan Kho’ keluar dari tenggorokan atas.

  1. Kelompok lidah

Huruf yang keluar dari lidah sebagai berikut

ق- ك- ج- ش- ي- ض- ل- ن- ر- ط- د- ت- ظ- ث- ذ- ص- ز- س

Qof keluar dari pangkal lidah (dekat tenggorokan) dengan mengangkat ke atas langit-langit.

Kaf seperti makhrojnya qof namun pangkal lidah diturunkan.

Jim dan Syin keluar dari tengah lidah dengan langit-langit.

Dlod keluar dari dua sisi lidah atau salah satunya bertemu dengan gigi geraham

Lam keluarnya dengan menggerakan semua lidah  dan bertemu dengan ujung langit-langit.

Nun keluarnya dari ujung lidah di bawah makhrojnya lam.

Ro’ keluar dari ujung lidah, hamper sama seperti dengan memasukan punggung lidah

Tho, dal, dan ta’ keluar dari ujung lidah yang bertemu dengan gigi bagian atas.

Shod, za’, dan sin keluar dari ujung lidah yang hamper bertemu dengan gigi depan bagian bawah.

Tsa’, Dho dan Dzal keluar dari ujung lidah keluar sedikit, bertemu dengan ujung gigi depan bagian atas.

  1. Kelompok dua bibir

Huruf yang keluar dari bibir adalah Mim, Ba’, Wawu, dan Fa’

Fa’ keluar dari bagian dalam yang bertemu dengan ujung gigi atas.

Wawu, Ba’, dan Mim huruf mim dan ba’ dengan menempelkan 2 bibir, sedangkan wau dengan memonyongkan bibir

  1. Kelompok pangkal lidah

Hurf yang keluar dari ronggah hidung yaitu ghunnah (dengung).

Ghunnah terdapat pada 7 tempat

  1. Idghom bighunnah
  2. Iqlab
  3. Ikhfa’
  4. Ikhfa’ syafawi
  5. Idghom mitslain
  6. Huruf nun dan yang bertasdid baik washol atau waqaf
  7. Lafadz اركب معنا (idghom Mitslain)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Makna Lain Huruf Alif

Makna Lain Huruf Alif

Setelah kemarin kita membahas makna dari huruf alif sekarang kami mencoba menerangkan arti lain dari huruf alif. Alif yang masuk dalam kategori ini adalah alif Istifham. Alif istifham adalah huruf alif yang disandingkan dengan kalimat lain sehingga menunjukan makna sebuah pertanyaan. Ada[un makna alif istfham ada tiga:

  1. Mempunyai makna al Istifham (pertanyaan), hal ini jika diucapkan oleh sesama, dalam artian seseorang menanyakan sesuatu pada temannya, contoh: sudahkan kamu sholat?
  2. Mempunyai makna at-taqrir (penetapan hati), hal ini jika di lafadzkan oleh Allah kepada Auliya’-Nya untuk menambah kemantaban hati dan keteguhan iman para ‘Auliya kepada Allah Swt. contoh: Kalam Allah kepada Nabi Isa as. untuk memantabkan hati beliau, Allah berfirman “aanta qulta linnas”.
  3. Mempunyai makna at-Taubikh (teguran), hal ini dilafadzkan oleh Allah kepada hamba-Nya dengan maksud teguran agar manusia sadar bahwa hakikatnya ia bukanlah siapa-siapa di dunia ini, contoh: firman Allah “a antum a;lamu amillah”.

Kemudian adalam alif amar, yakni alif yang melekat dalam fi’il amar, hal ini bisa menunjukan makna kuasa, sebagaimana kuasa tuhan memerintah hambanya, dan perintah semacam ini disebut amar. Contoh: firman Allah “aqimu as-Sholata wa atuu az-zakaata”. Juga bisa menunjukan makna  ketidakberdayaan seorang hamba di hadapan Tuhannya, dan perintah yang menunjukan makna ini disebut do’a. contoh: do’a seorang hamba kepada Allah Swt. dan juga bisa menunjukan makna sesuatu yang bukan kabar berita, seperti ajakan, ataupun perintah terhadap sesama dan perintah semacam ini disebut dengan musawah. Contoh: perintah atau ajakn seseorang kepada temannya.

Dan yang terakhir adalah alif yang berada dalam tafdhil, semisal akbaru, afdlolu, asyhadu, ahsanu, dll. Hal ini menunjukan dua makna; pertama, makna yang patut untuk tuhan, karena hanya tuhan yang memiliki sifat tafdhil. Dan makan untuk manusia, karena manusia telah diciptakan dengan bentuk yang lebih bagus dari makhlu yang lain, firman Allah “laqod kholaqnal insana fi ahsani taqwim”, dan selain itu, karena manusia adalah khalifah allah di muka bumi ini, maka dengan kuasa Allah diciptakanlah manusia dalam keadaan yang sempurna. Manusia sebagai wadah penjelmaan tajalli sifat dan asma Allah yang bersumber dari Nur Muhammad yang biasa kita kenal dengan Insan Kamil. Dalm hadis qudsi Allah berfirman; “Al-insanu sirri wa an sirruhu”. Wallahu a’lam.

 Refrensi;

Diambil dari buku Rahasia Huruf Hija’iyah Membaca Huruf Arabiyah dengan kacamata Teosofi

Penulis Ahmad Shofi Muhyiddin

Mengenal Ilmu Tajwid: Kunci Membaca Al-Qur’an dengan Benar dan Fasih

Mengenal Ilmu Tajwid: Kunci Membaca Al-Qur’an dengan Benar dan Fasih

Tajwid merupakan salah satu ilmu fundamental bagi setiap muslim yang ingin membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Memahami dan mengamalkan ilmu tajwid adalah kunci untuk menjaga keaslian dan kesempurnaan bacaan kitab suci.

Pengertian Tajwid Secara Bahasa dan Istilah

Secara bahasa, kata Tajwid (تَجْوِيد) berasal dari bahasa Arab, kata kerja jawwada – yujawwidu – tajwidan yang berarti melakukan sesuatu dengan indah, bagus, atau membaguskan. Dalam konteks ini, tajwid berarti memperindah bacaan.

Sedangkan secara istilah, Ilmu Tajwid adalah:

“Mengucapkan setiap huruf dari makhraj (tempat keluarnya) serta memberikan haq (sifat-sifat asli) dan mustahaq (sifat-sifat yang timbul) dari sifat-sifatnya.”

Dengan kata lain, Ilmu Tajwid adalah ilmu yang mempelajari tentang tata cara membunyikan atau melafalkan huruf-huruf Al-Qur’an dengan baik, benar, dan fasih, sesuai dengan kaidah pelafalan huruf Arab, termasuk memperhatikan panjang pendek (mad), tebal tipis (tafkhim dan tarqiq), dan tempat keluarnya huruf (makharijul huruf).

Inti dari Ilmu Tajwid

Ilmu tajwid berfokus pada tiga hal utama dalam pembacaan Al-Qur’an:

1. Makharijul Huruf (Tempat Keluarnya Huruf): Memastikan setiap huruf dilafalkan dari tempat keluarnya yang tepat (misalnya tenggorokan, lidah, bibir).

2. Sifatul Huruf (Sifat-sifat Huruf): Memberikan sifat yang dimiliki setiap huruf, seperti jahr (jelas), hames (berdesis), isti’la (tebal), qalqalah (pantulan), dan lain-lain.

3. Ahkamul Huruf (Hukum-hukum Bacaan): Menerapkan berbagai hukum yang timbul ketika dua huruf atau lebih bertemu, seperti hukum Nun Sukun/Tanwin (misalnya idzhar, idgham, iqlab, ikhfa), hukum Mad (panjang pendek), dan hukum Ra’ atau Lam.

Tujuan dan Hukum Mempelajari Tajwid

Tujuan utama dari mempelajari dan mengamalkan ilmu tajwid adalah untuk:

  • Memelihara bacaan Al-Qur’an dari kesalahan dan perubahan.
  • Menjaga lisan (mulut) dari kesalahan fatal (kesalahan yang mengubah makna) saat membaca firman Allah SWT.
  • Mencapai bacaan yang tartil, sebagaimana perintah Allah SWT dalam firman-Nya:

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan/tartil.” (QS. Al-Muzammil [73]: 4)

Hukum Mempelajari dan Mengamalkan Tajwid

1. Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid: Mayoritas ulama berpendapat hukumnya adalah Fardhu Kifayah (kewajiban yang jika sudah dilaksanakan oleh sebagian orang, maka gugurlah kewajiban atas yang lain).

2. Hukum Membaca Al-Qur’an Sesuai Kaidah Tajwid: Hukumnya adalah Fardhu ‘Ain (kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap individu muslim yang membaca Al-Qur’an), terutama menghindari kesalahan fatal (lahnul jaly) yang dapat mengubah makna.

Dengan demikian, tajwid bukan sekadar aturan tambahan, melainkan sebuah pedoman esensial yang memastikan setiap huruf, kata, dan ayat Al-Qur’an dilafalkan dengan sempurna, sehingga makna yang terkandung di dalamnya tersampaikan secara utuh dan benar.