langitanmabin@gmail.com

Mengejar gelar hafidz

Mengejar gelar hafidz

Kesalahan pertama yang paling fatal bagi seorang penghafal al Qur’an adalah terkait niat dan ke ikhlasan. Jika niatnya dalam menghafal alQur’an salah serta keikhlasannya benar-benar tidak ada, sebesar dan sebanyak apapun keutamaan menghafal al Qur’an menjadi sesuatu yang tak bernilai baginya di akhirat. Salah satu bentuk ketidak ikhlasan seorang penghafal al Qur’an adalah ia hanya mengharap pujian dari orang lain, berharap orang lain menghormati dan menyanjungnya, atau menyebut-nyebut dengan gelar hafidz al Qur’an.

Hal yang pertama yang harus diperhatikan oleh seseorang sebelum menghafal al-Qir’an adalah mengikhlaskan niatnya semata-ata karena Allah Swt. Al Qurthubi (w. 671 H) di dalam tafsirnya Al Jami’ li Akam Al Qur’an menyatakan, yang artinya:

“Hal pertama yang harus diperhatikan oleh shahibul Qur’an adalah mengikhlaskan niat dalam mempelajari Al-Qur’an, yaitu samata-mata karena Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana telah kami sebutkan. Dan hendaknya ia mencurahkan jiwanya untuk membaca dalam sholat maupun di luar sholat, agar ia tidak lupa”.

Jika kita menghafal al-Qur’an karena ingin dipuji-puji oleh manusia, sebenarnya kita sedang beramal dengan amalan yang besar tetapi tidak memiliki pahala apa-apa dihadapan Allah swt. bahkan, hal itu membuat kita berdosa serta terancam siksa-Nya. Imam An Nawawi (w. 676 H.)- di dalam al Minhaj syarh Shahih Muslim Ibnu Al-Hajjaj menyatakan “Amalan seseorang yang hanya menginginkan pujian dari yang lain adalah amalan yang batil, tidak berpahala bahkan akan mendapatkan dosa”.

Sekalipun menghafal al-Qur’an adalah amalan yang mampu mengantarkan seseorang menuju surga-Nya, tapi jika tidak dibarengi dengan keikhlasakan niat semata-mata karena mengharap ridha Allah Swt., jangankan ia dapat masuk kedalam surga, bahkan mencium baunya saja tidak mampu.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Rasulullah bersabda Saw.pernah bersabda “Siapa menuntut yang semestinya ditujukan untuk mengharap keridhaan Allah, tetapi ia memperlajarinya hanya untuk meraih tujuan duniawi, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat” (Hr Abu Dawud no.3179)

Seseorang bisa-bisa saja merasa sudah ikhlas dalam menghafal Al-Qur’an. Namun, jika didalam hatinya masih ada harapan untuk dipuji-puji, atau masih tersimpan keinginan untuk dihormati karena Al-Qur’an yang sudah dihafalanya, sebenarnya keikhlasan tersebut terlah tersingkirkan oleh harapan dan keinginannya. Ibnal al-Qoyyuim al-Jauziyyah (w. 751 H) di dalam al Fawaid mengatakan “Iklas di dalam hati seseorang tidak mungkin menyatu dengan harapan akan pujian, sanjungan, dan keinginan terhadap apa yang dimiliki manusia, melainkan seperti air dengan api  yang tidak menyatu.”

Adapun seorang penghafal al-Qur’an, baik mengharapkan pujian dari orang lain maupun tidak, sebenarnya, pujian itu memang pantas didapatkan. Betapa tidak, amalan menghafal al-Qur’an adalah amalan yang istimewa, dan setiap mukmin pasti mengingingkannya. Namun, jika tujuannya hanya untuk mendapatkan pujian dari manusia, ia hanya akan mendapakan pujian tersebut tanpa pahala dari Allah Swt.  berbeda jika tujuannya ikhlas, hanya karena Allah, selain berhak mendapatkan pujian dari makhluk-Nya, ia juga akan mendapatkan pujian sekaligus pahala kebaikan yang berlimpah dari Rabbnya.

Kita harus menjaga hati ketika banyka orang lain memuji karena amalan yang kita lakukan. Ibn ‘Ajibah (w. 1224 H.)- di dalam Iqazl al-Himam fi Syarh al-Hikam mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memujimu tidaklah mengetahui dirimu kecuali yang nampak, sementara engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada Ulama yang mengatakan “Siapa yang begitu senang dengan pujian manusia, maka setan akan merasuk kedalam hatinya”.

Mengejar gelar hafidz

Ketika Hafalan Menjadi “Mantan”: Sebuah Ironi dan Pengingat Diri

Menjadi seorang hafizh (penghafal Al-Qur’an) adalah sebuah anugerah, sebuah predikat yang didambakan banyak orang untuk meraih kemuliaan sebagai ahlullah (keluarga Allah). Namun, pernahkah terlintas sebuah istilah yang ganjil dan ironis: “Mantan Hafizh”?

Bagaimana mungkin sebuah nikmat yang lebih berharga dari dunia dan seisinya—sebuah hafalan yang dijaga ayat per ayat—bisa menjadi “mantan”?

Pertanyaan ini bukanlah untuk dijawab dengan logika sederhana “ya, bisa saja,” melainkan sebuah pertanyaan reflektif yang menusuk jauh ke dalam diri. Bagaimana mungkin seseorang yang telah menemukan kebahagiaan tertinggi dalam Al-Qur’an, rela melepaskannya seolah telah menemukan sesuatu yang lebih indah? Tentu saja, itu mustahil.

Artikel ini tidak sedang membahas mereka yang secara terbuka mengaku-aku, melainkan sebuah pengingat bahwa status “mantan hafizh” adalah sebuah kondisi yang bisa mengintai siapa saja.

Identitas “Mantan Hafizh”: Terlihat dari Perbuatan, Bukan Ucapan

Kita mungkin tidak akan pernah menemukan orang yang secara lisan mengaku, “Saya mantan hafizh.” Na’udzubillah. Kenyataannya, yang sering terjadi justru sebaliknya: orang yang tidak hafal mengaku-aku hafal.

Lalu, dari mana kita tahu keberadaan “mantan hafizh”? Jawabannya tidak terletak pada lisan, tetapi pada perbuatan.

Seorang “mantan hafizh” dapat diidentifikasi melalui tanda-tanda berikut:

  1. Tidak Lagi Menjaga Hafalan: Ia yang dulu bersusah payah menghafal, kini tidak pernah lagi mengulang (muraja’ah) hafalannya.
  2. Tidak Merasa Kehilangan: Ketika ayat-ayat itu mulai pudar dan hilang dari ingatan, tidak ada rasa penyesalan atau kehilangan yang berarti di hatinya.
  3. Tidak Ada Niat Kembali: Bukan hanya tidak menyesal, ia bahkan tidak memiliki niat atau semangat untuk mengembalikan hafalan yang telah hilang tersebut.
  4. Akhlak yang Jauh: Puncaknya, perilakunya sehari-hari (akhlaknya) menjadi jauh dari nilai-nilai Al-Qur’an yang dulu pernah ia junjung tinggi.

Lupa Itu Manusiawi, Apatis Itu Pilihan

Pertanyaan sesungguhnya adalah: “Apakah kita seperti itu?”

Coba kita jujur pada diri sendiri. Berapa banyak ayat yang dulu kita hafal di luar kepala, kini telah terlupakan? Lupa adalah hal yang wajar; fitrah manusia. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika lupa itu berubah menjadi sikap apatis dan kita membiarkan hafalan itu pergi begitu saja.

Saat itulah hafalan kita benar-benar menjadi “mantan”.

Kisah seorang mujahid dari kalangan Tabi’in yang juga penghafal Al-Qur’an menjadi bukti nyata. Karena tergoda fitnah wanita, ia rela menukar keimanannya. Akibatnya, seluruh hafalan Al-Qur’an di dalam dadanya lenyap, kecuali hanya dua ayat. Ini adalah bukti nyata bahwa status penjaga Al-Qur’an bisa dicabut.

Kemuliaan yang Terancam

Membiarkan hafalan hilang adalah sebuah kerugian yang tak ternilai. Al-Qur’an adalah harta yang paling berharga. Dengannya, kita menjanjikan kemuliaan di dunia dan akhirat. Dengannya, kita akan menghadiahkan mahkota kemuliaan dan pakaian kehormatan kepada kedua orang tua kita di surga kelak.

Setiap ayat yang kita jaga akan menaikkan derajat kita di surga. Masya Allah!

Jika kita menyadari betapa besarnya tanggung jawab ini—sedikit atau banyak hafalan yang kita miliki—kita akan sadar bahwa kitalah yang paling tahu jawaban atas pertanyaan di awal: “Siapa mantan hafizh itu?” Jawabannya adalah diri kita sendiri, jika kita masih bergeming dan tidak ada semangat untuk meraih kembali ayat-ayat yang telah terlupa.

Jalan Pulang: Jaga Ayatnya, Jaga Akhlaknya

Tulisan ini adalah penekanan agar kita tidak pernah patah semangat. Kita tidak akan pernah menjadi “mantan hafizh” selama kita terus berusaha menjaga ayat-ayat yang pernah kita hafal.

Menjaga Al-Qur’an memiliki dua dimensi:

  1. Menjaga Ayat-ayat-Nya: Melalui muraja’ah yang konsisten.
  2. Menjaga Akhlak-Nya: Menjadikan diri kita cerminan hidup dari Al-Qur’an yang kita hafal.

Jika para orientalis Barat bersusah payah mempelajari Al-Qur’an untuk menghancurkan Islam, kita menghafalnya untuk kemuliaan kita sendiri. Allah SWT telah memilih kita di antara miliaran hamba-Nya untuk menjadi seorang penghafal Al-Qur’an. Ini adalah anugerah terbesar yang harus disyukuri.

Cara terbaik mensyukurinya adalah dengan tetap menjaganya hingga akhir hayat. Mari kita kembalikan hafalan yang hilang itu ke dalam hati dan ingatan kita. Jangan pernah jadikan ia “mantan”.

 

Pin It on Pinterest