langitanmabin@gmail.com

Mencetak Generasi Rabbani: Menelusuri Jejak Parenting Emas Para Ulama Salaf

Mencetak Generasi Rabbani: Menelusuri Jejak Parenting Emas Para Ulama Salaf

Di tengah gempuran arus digital dan krisis identitas saat ini, banyak orang tua modern merasa kehilangan arah dalam mendidik anak. Kita sering terjebak pada pemenuhan fasilitas materi, namun lupa membangun fondasi jiwa. Padahal, berabad-abad lalu, para ulama salaf telah mewariskan “peta jalan” yang berhasil mencetak generasi emas pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga kokoh secara spiritual.

Berikut adalah 10 rahasia pola asuh ulama salaf yang bisa kita adaptasi dalam keluarga hari ini:

  1. Membangun Fondasi Spiritual (Shalat dan Zakat)

Bagi ulama salaf, kesalehan anak dimulai dari keteladanan orang tua. Merujuk pada sosok Nabi Ismail AS dalam Surah Maryam ayat 55, pendidikan dimulai dengan membiasakan ibadah di rumah. Anak-anak tidak akan taat hanya karena perintah, melainkan karena mereka melihat orang tuanya sujud dengan penuh cinta kepada Sang Khalik.

  1. Menanamkan Kebiasaan Baik Sejak Dini

Ibnu Mas’ud menekankan pentingnya pembiasaan. Jiwa anak layaknya tanah subur; apa yang ditanam secara rutin akan berakar kuat. Menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan harian bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya memberikan “gizi” terbaik bagi ruh mereka sebelum mereka terpapar pengaruh luar.

  1. Menanamkan Integritas Lewat Muraqabatullah

Salah satu warisan terindah adalah mengajarkan anak bahwa mereka tidak pernah sendirian. Ada pengawasan Allah (Muraqabatullah) yang lebih tajam dari kamera pengawas mana pun. Dengan kesadaran ini, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang jujur dan berintegritas, baik di depan orang banyak maupun saat berselancar sendirian di dunia maya.

  1. Seni Memberi Apresiasi (Reward)

Ulama salaf sangat memahami psikologi anak. Mereka tidak pelit memberikan pujian dan hadiah. Ibrahim bin Adham termotivasi belajar hadits karena ayahnya menjanjikan satu dirham untuk setiap hafalan. Ini mengajarkan kita bahwa mengapresiasi proses belajar anak adalah bahan bakar bagi semangat mereka.

  1. Memilih Lingkungan dan Guru yang Tepat

Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tapi transfer adab. Orang tua salaf sangat selektif dalam memilih guru. Mereka mencari sosok yang perilakunya selaras dengan ucapannya. Pesan Utbah bin Abi Sofyan mengingatkan kita: pilihlah pendidik yang bisa dicintai dan diteladani oleh anak-anak kita.

  1. Keterlibatan Penuh Orang Tua

Di era di mana banyak anak “diasuh” oleh gadget atau asisten rumah tangga, prinsip salaf mengingatkan kita untuk mengambil kembali kendali. Ibunda Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah adalah bukti nyata bahwa pengorbanan dan kehadiran fisik orang tua adalah kunci utama lahirnya seorang jenius yang saleh.

  1. Melatih Ketangkasan dan Kemandirian (Life Skill)

Pendidikan tidak hanya terjadi di dalam kelas. Umar bin Abdul Aziz mendorong anak-anak untuk diajari memanah, fisik yang kuat, dan ketangkasan. Di masa kini, ini berarti melatih anak untuk tangguh (resilient), tidak manja, dan mampu menyelesaikan masalah hidupnya sendiri.

  1. Menemukan “Permata” dalam Diri Anak

Setiap anak adalah unik. Ulama salaf tidak memaksakan satu standar untuk semua anak. Mereka berperan sebagai pengamat yang jeli untuk menemukan bakat alami anak, lalu mengasahnya hingga menjadi potensi yang bermanfaat bagi umat, sebagaimana yang terjadi pada Ibnu Al-Jauzi.

  1. Memberikan Kepercayaan dan Tanggung Jawab

Rasulullah ﷺ sering memberikan kepercayaan pada anak kecil untuk melakukan tugas-tugas dewasa dengan bimbingan yang sabar. Dengan memberikan tanggung jawab, kita sedang membangun kepercayaan diri mereka. Anak yang dipercaya akan belajar untuk menjadi sosok yang bisa diandalkan.

  1. Mendengarkan dan Menghargai Pendapat

Kedewasaan berpikir tidak selalu berbanding lurus dengan usia. Umar bin Khattab sering melibatkan pemuda dalam diskusi penting. Menghargai pendapat anak membuat mereka merasa berharga dan melatih logika serta keberanian mereka dalam mengekspresikan kebenaran.

 

Refleksi untuk Kita: Parenting ala ulama salaf bukanlah tentang mengekang, melainkan tentang mengarahkan. Ia adalah perpaduan antara ketegasan prinsip dan kelembutan kasih sayang. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, kita sedang menyiapkan investasi terbaik yang pahalanya akan terus mengalir, bahkan saat kita sudah tiada.

Wallahu a’lam bish-shawabi.

Mengupas Keagungan Sya’ban: Sejarah, Keutamaan, dan Tuntunan Ibadah Menuju Ramadhan

Mengupas Keagungan Sya’ban: Sejarah, Keutamaan, dan Tuntunan Ibadah Menuju Ramadhan

Sya’ban adalah salah satu bulan yang mulia dan merupakan gerbang menuju bulan Ramadhan. Barang siapa yang berupaya membiasakan diri bersungguh-sungguh dalam beribadah di bulan ini, niscaya ia akan menuai kesuksesan di bulan Ramadhan.

Dinamakan Sya’ban karena pada bulan tersebut terpancar dan bercabang-cabang kebaikan yang banyak (yatasya’abu minhu khairun katsir). Pendapat lain mengatakan Sya’ban berasal dari kata Syi’b, yaitu jalan di sebuah gunung atau jalan kebaikan. Di bulan ini, terdapat banyak peristiwa penting yang patut menjadi perhatian kaum muslimin.

  1. Perpindahan Kiblat

Pada bulan Sya’ban, arah kiblat berpindah dari Baitul Maqdis (Palestina) ke Ka’bah (Makkah al-Mukarramah). Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) sangat menanti-nanti peristiwa ini dengan harapan yang tinggi. Setiap hari, beliau menengadahkan wajah ke langit, menanti wahyu dari Rabb-nya, hingga akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) mengabulkan penantian tersebut dengan menurunkan firman-Nya:

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al-Baqarah: 144)

  1. Diangkatnya Amal Manusia

Salah satu keistimewaan bulan Sya’ban adalah diangkatnya amal-amal manusia ke langit. Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam suatu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasamu di bulan Sya’ban.”

Maka beliau bersabda:

“Itulah bulan yang manusia lalai darinya, antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada Rabbul ‘Alamin. Dan saya menyukai amal saya diangkat, sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa’i)

  1. Keutamaan Puasa di Bulan Sya’ban

Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Adakah puasa yang paling utama setelah Ramadhan?” Beliau menjawab, “Puasa bulan Sya’ban karena mengagungkan bulan Ramadhan.”

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata:

“Adalah Rasulullah SAW berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak daripada di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)

Meskipun ada riwayat yang menyebutkan puasa di bulan-bulan mulia (asyhurul hurum) adalah yang paling utama setelah Ramadhan, Imam Nawawi menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memperbanyak puasa di Sya’ban mungkin karena beliau baru mengetahui keutamaan asyhurul hurum di akhir hayatnya, atau karena adanya uzur (sakit/bepergian) saat bulan-bulan mulia tersebut.

Intinya, puasa Sya’ban adalah latihan (training) sebelum memasuki Ramadhan, layaknya shalat sunnah rawatib sebelum shalat wajib.

Hukum Puasa Separuh Kedua Sya’ban Berpuasa khusus pada separuh kedua bulan Sya’ban tidak diperkenankan, kecuali jika:

  1. Menyambung puasa dari separuh pertama Sya’ban.
  2. Sudah menjadi kebiasaan (puasa Daud atau Senin-Kamis).
  3. Melakukan puasa qadha (ganti).
  4. Menjalankan puasa nazar.
  5. Tidak melemahkan semangat untuk puasa Ramadhan.
  1. Turunnya Ayat Shalawat Nabi

Bulan Sya’ban juga istimewa karena pada bulan inilah turun ayat anjuran bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

  1. Sya’ban, Bulan Al-Qur’an

Sya’ban juga dijuluki sebagai bulan Al-Qur’an. Syekh Ibnu Rajab al-Hambali meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa kaum muslimin ketika memasuki bulan Sya’ban, mereka menekuni pembacaan Al-Qur’an dan mengeluarkan zakat untuk membantu fakir miskin agar mereka kuat menjalani puasa Ramadhan.

Keistimewaan Malam Nisfu Sya’ban

Malam Nisfu Sya’ban (pertengahan Sya’ban) adalah malam yang penuh berkah. Pada malam ini, Allah SWT mengampuni orang yang memohon ampun, mengasihi yang memohon belas kasih, mengabulkan doa, menghilangkan kesusahan, membebaskan dari api neraka, serta mencatat rezeki dan amal manusia.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Allah melihat kepada semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban dan Dia mengampuni mereka semua, kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Thabarani dan Ibnu Hibban; dinilai shahih oleh Ibnu Hibban)

Nama-nama Lain Malam Nisfu Sya’ban: Banyaknya nama menandakan kemuliaan malam tersebut, di antaranya:

  1. Lailatul Mubarakah (Malam penuh berkah).
  2. Lailatul Qismah (Malam pembagian rezeki).
  3. Lailatut Takfir (Malam peleburan dosa).
  4. Lailatul Ijabah (Malam pengabulan doa).
  5. Lailatul Idil Malaikah (Malam hari raya malaikat).
  6. Lailatus Syafa’ah (Malam syafaat).
  7. Lailatul Bara’ah (Malam pembebasan).

Pro dan Kontra Seputar Nisfu Sya’ban

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambali menyebutkan bahwa meskipun banyak hadits tentang Nisfu Sya’ban berstatus dhaif (lemah), namun para ulama sepakat (seperti kata Imam Nawawi) bahwa hadits dhaif boleh digunakan untuk fadha’ilul a’mal (keutamaan amal), selama tidak terlalu lemah dan tidak untuk menentukan hukum halal-haram.

Mengenai tuduhan bid’ah, Imam Al-Ghazali dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa tidak semua hal baru itu terlarang. Bid’ah yang terlarang (sayyi’ah) adalah yang bertentangan dengan sunnah. Adapun hal baru yang baik menurut syariat disebut bid’ah hasanah (terpuji).

Syekh Ibnu Taimiyah pun mengakui adanya riwayat dari ulama salaf yang melakukan shalat pada malam Nisfu Sya’ban. Menghidupkan malam ini hukumnya sunnah (mustahab) dengan amalan seperti shalat sunnah mutlak, membaca Al-Qur’an, dzikir, doa, tasbih, dan shalawat.

Tuntunan dan Tradisi di Malam Nisfu Sya’ban

Rasulullah SAW bersabda (diriwayatkan Sayyidina Ali ra.):

“Jika tiba malam Nisfu Sya’ban, maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Karena sesungguhnya Allah menurunkan rahmat-Nya ke langit dunia mulai terbenam matahari…” (HR. Ibnu Majah)

Malam ini adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak doa, karena doa adalah senjata orang mukmin. Allah menjanjikan pengabulan doa bagi hamba-Nya selama tidak meminta hal yang berdosa atau memutus silaturahmi.

Tradisi Membaca Yasin Kebiasaan masyarakat membaca Surah Yasin tiga kali dengan niat (1) panjang umur dalam ketaatan, (2) tolak bala dan rezeki yang luas, serta (3) husnul khatimah, adalah hal yang diperbolehkan dan tidak dilarang, meskipun ada kelompok yang menganggapnya salah.

Peringatan Terhadap Hadits Palsu

Namun, perlu diwaspadai adanya hadits-hadits palsu tentang tata cara shalat tertentu di malam Nisfu Sya’ban. Salah satunya adalah riwayat yang menyebutkan “Shalat 14 rakaat dengan bacaan Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas masing-masing 14 kali”. Riwayat ini dan sejenisnya dinyatakan tidak berdasar dan bohong belaka (maudhu’).

Oleh karena itu, hidupkanlah malam Nisfu Sya’ban dengan ibadah-ibadah umum yang disyariatkan tanpa mengamalkan tata cara khusus yang berlandaskan hadits palsu.

(Disarikan dari kitab “Madza fi Sya’ban” karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki).

 

Imam Ibnu Dzakwan: Pewaris Qur’an dari Negeri Syam dan Sanad Abu Darda’

Imam Ibnu Dzakwan: Pewaris Qur’an dari Negeri Syam dan Sanad Abu Darda’

Dalam khazanah Qira’at Sab’ah (Tujuh Qira’at yang Mutawatir), nama Abdullah bin Ahmad bin Basyir bin Dzakwan menempati posisi yang sangat istimewa. Sosok yang lebih dikenal sebagai Imam Ibnu Dzakwan ini adalah perawi kedua dari Qira’at Imam Ibnu Amir al-Syami.

Beliau bukan sekadar perawi, melainkan ulama yang meneruskan estafet kepemimpinan Iqra’ (pengajaran Al-Qur’an) di Damaskus setelah wafatnya rekan sejawatnya, Imam Hisyam bin Ammar.

Profil Sang Imam

Lahir pada bulan Asyura tahun 173 H, Imam Ibnu Dzakwan memiliki kuniyah Abu Muhammad atau Abu Amr al-Dimasyqi. Beliau dikenal sebagai imam yang tsiqah (sangat terpercaya) dan masyhur. Posisinya sangat sentral di negeri Syam, di mana beliau menjabat sebagai Syaikhul Iqra’ (Guru Besar Al-Qur’an) sekaligus Imam Masjid Jami’ di Damaskus. Posisi ini menjadikan beliau rujukan utama masyarakat Syam dalam hal bacaan Al-Qur’an pada masanya.

Perjalanan Intelektual: Pertemuan Dua Mazhab

Perjalanan menuntut ilmu Imam Ibnu Dzakwan sangat istimewa karena beliau tidak hanya mengambil ilmu dari “kandang sendiri” (Syam), tetapi juga menyerap ilmu dari imam besar Kufah dan Madinah. Ini menunjukkan keterbukaan wawasan beliau terhadap variasi dialek Arab.

Guru-guru utama beliau antara lain:

  1. Ayyub bin Tamim: Guru utama tempat beliau belajar Qira’at secara talaqqi. Sanad ini bersambung melalui Yahya al-Dzimari hingga sampai ke Imam Ibnu Amir.
  2. Ali Al-Kisa’i (Imam Qira’at ke-7): Ini adalah fakta sejarah yang menarik. Ibnu Dzakwan sempat bertemu dan belajar langsung kepada Imam Al-Kisa’i saat sang Imam berkunjung ke Syam. Beliau berkata: “Saya menetap bersama Imam al-Kisa’i selama tujuh bulan dan berulangkali membaca Al-Qur’an kepadanya.”
  3. Ishaq bin al-Musayyibi: Dari murid Imam Nafi’ (Madinah) ini, Ibnu Dzakwan mempelajari sebagian “huruf” qira’at.

Keistimewaan Sanad dan Karakteristik Bacaan

Nilai paling prestisius dari riwayat Ibnu Dzakwan adalah sanadnya yang bermuara pada Abu Darda’ r.a., sahabat Nabi yang diutus khalifah Utsman bin Affan untuk mengajarkan Al-Qur’an di Syam.

Dalam aspek teknis (Ushul Qira’at), riwayat Ibnu Dzakwan memiliki karakter unik, di antaranya:

  • Sakt: Memiliki jalur periwayatan yang memberlakukan jeda halus tanpa napas di antara dua surah.
  • Imalah: Memiringkan bunyi harakat pada kata-kata tertentu, terutama pada Ha’ Ta’nits saat waqaf, yang menjadi ciri khas dialek luhur sebagian kabilah Arab masa lalu.

Komentar Ulama dan Karya Tulis

Kapasitas keilmuan Ibnu Dzakwan diakui secara luas lintas wilayah. Imam Abu Zar’ah al-Dimasyqi memberikan pujian tinggi:

“Menurut saya tidak ada di Iraq, Syam, Hijaz, Mesir, dan Khurasan pada masa Ibnu Dzakwan yang paling mahir soal qira’at dibanding dia.”

Selain mengajar, beliau produktif menulis. Di antara karyanya adalah:

  • Aqsam Al-Qur’an wa Jawabuha (Bagian-bagian Al-Qur’an dan Jawabannya).
  • Ma Yajibu ‘Ala Qari’ Al-Qur’an Inda Harakati Lisanihi (Panduan teknis bagi pembaca Al-Qur’an saat melafalkan huruf).

Murid dan Wafat

Sebagai magnet keilmuan, banyak penuntut ilmu datang kepadanya. Murid-murid beliau yang terkenal antara lain putranya sendiri (Ahmad bin Abdullah), Abu Zar’ah al-Dimasyqi, dan Harun bin Musa al-Akhfasy.

Setelah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Al-Qur’an, Imam Ibnu Dzakwan wafat pada tahun 243 H (beberapa riwayat menyebut 242 H). Warisan ilmunya tetap abadi, dijaga Allah, dan terus dibaca oleh umat Islam hingga hari ini sebagai salah satu dari 14 riwayat yang mutawatir.

Lautan Hijau di Masjid Al Akbar: Ribuan Santri dan Guru TPQ Hadiri Istighosah Kubro Mabin Langitan

Lautan Hijau di Masjid Al Akbar: Ribuan Santri dan Guru TPQ Hadiri Istighosah Kubro Mabin Langitan

SURABAYA – Masjid Nasional Al Akbar Surabaya dipadati oleh lautan jamaah pada Selasa (30/12/2025). Ribuan orang yang terdiri dari pengurus Mabin Pusat, anggota Mabin se-Indonesia, serta seluruh santri dan guru Lembaga TPQ yang bermitra dengan Mabin Langitan, berkumpul untuk mengikuti Istighosah Kubro.

[Image: Suasana ribuan santri dan guru TPQ memadati ruang utama Masjid Nasional Al Akbar Surabaya]

Acara akbar yang digelar menjelang akhir tahun ini berlangsung dengan sangat khidmat dan meriah. Kapasitas ruang utama masjid terbesar kedua di Indonesia ini tampak penuh sesak oleh jamaah yang antusias mengikuti rangkaian kegiatan doa bersama tersebut.

Dihadiri Tokoh Penting dan Masyayikh

Momen ini menjadi sangat istimewa dengan kehadiran langsung Majelis Masyayikh Pondok Pesantren Langitan. Kehadiran para kiai sepuh ini menjadi magnet utama yang dinanti-nantikan oleh para alumni, guru, dan santri untuk ngalap berkah.

Turut hadir pula Gubernur Jawa Timur beserta jajaran Forkopimda yang memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan keagamaan yang mempersatukan umat ini.

Sinergi Mabin dan Lembaga TPQ

Keistimewaan Istighosah Kubro kali ini terletak pada pelibatan masif dari akar rumput. Tidak hanya alumni senior, acara ini melibatkan ribuan santri cilik dan guru-guru pejuang Al-Qur’an dari berbagai Lembaga Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang berada di bawah naungan kemitraan Mabin Langitan.

“Melihat ribuan santri TPQ dan guru-gurunya berkumpul satu majelis dengan Masyayikh dan Umara di Masjid Al Akbar ini sungguh menyejukkan. Ini adalah simbol kekuatan pendidikan karakter berbasis Al-Qur’an di Jawa Timur,” ujar Gubernur Jawa Timur dalam sambutannya.

Gema dzikir dan doa bersama yang dipimpin oleh Masyayikh Langitan membahana memenuhi kubah masjid, mendoakan keselamatan bangsa, keberkahan ilmu para santri, dan kemajuan pendidikan Al-Qur’an di Indonesia.

Acara ditutup dengan doa penutup oleh Masyayikh, dilanjutkan dengan momen silaturahmi yang mempererat ukhuwah antara pengurus Mabin, asatidz TPQ, dan para santri.

IAINU Tuban dan Yayasan Mabin An Nahdliyah Langitan Bersinergi Gelar Diklat Standarisasi Guru TPQ

IAINU Tuban dan Yayasan Mabin An Nahdliyah Langitan Bersinergi Gelar Diklat Standarisasi Guru TPQ

Tuban, IAINUonline – Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban kembali menunjukkan komitmennya dalam peningkatan kualitas pendidikan Al-Qur’an di wilayah Pantura. Melalui Lembaga Pusat Studi Qur’an dan Turots, IAINU Tuban sukses menggelar Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Standarisasi Guru Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dengan menggunakan Metode An Nahdliyah yang populer.

Kegiatan strategis ini merupakan hasil kerjasama erat antara IAINU Tuban dengan Yayasan Mabin An Nahdliyah Langitan. Diklat dilaksanakan secara khidmat pada Jumat, 14 November 2025, dan bertempat di Aula KH. Hasyim Asy’ari kampus IAINU Tuban.

Perkuat Kompetensi Guru TPQ Lokal

Diklat ini bertujuan untuk menyamakan persepsi dan standarisasi pengajaran Metode An Nahdliyah agar para santri TPQ dapat membaca Al-Qur’an dengan fasih dan sesuai kaidah tajwid yang benar.

Kerjasama ini diawali dengan penandatanganan kesepakatan resmi. Ana Achoita, selaku Ketua Lembaga Pusat Studi Qur’an dan Turots IAINU Tuban, secara langsung menandatangani MoU bersama Ustadz Ahmad Ulul Hikam, Ketua Yayasan Mabin An Nahdliyah Langitan.

Ustadz Ahmad Ulul Hikam, yang mewakili pihak Yayasan Mabin An Nahdliyah Langitan, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan ini.

“Kami mengapresiasi inisiatif IAINU Tuban. Metode An Nahdliyah telah banyak dipraktikkan oleh berbagai lembaga dan guru TPQ karena terbukti efektif dalam mengajarkan anak-anak mengaji Al-Qur’an dengan cepat dan tepat,” jelas Ustadz Ulul Hikam. “Metode ini adalah warisan yang diridhai oleh para sesepuh, dan insyaallah akan membawa keberkahan bagi para pendidik.”

Harapan IAINU Tuban untuk Pendidikan Qur’ani

Diklat yang dihadiri oleh puluhan guru TPQ dari berbagai pelosok Tuban dan sekitarnya ini menjadi bukti nyata keseriusan IAINU Tuban dalam mencetak kader ulama dan pendidik yang berkualitas.

Penyelenggara berharap, melalui diklat intensif yang fokus pada teknik pengajaran, materi, dan evaluasi Metode An Nahdliyah ini, kualitas pengajaran Al-Qur’an di tingkat dasar dapat merata dan mampu mencetak generasi muda yang Qur’ani.

Kegiatan ini ditutup dengan sesi praktek dan ujian (munaqosah) untuk memastikan setiap guru yang berpartisipasi telah menguasai metode tersebut secara komprehensif, sekaligus mengukuhkan posisi IAINU Tuban sebagai pusat pengembangan keilmuan Al-Qur’an berbasis Nahdlatul Ulama.

 

Pin It on Pinterest