langitanmabin@gmail.com

Mengupas Keagungan Sya’ban: Sejarah, Keutamaan, dan Tuntunan Ibadah Menuju Ramadhan

Mengupas Keagungan Sya’ban: Sejarah, Keutamaan, dan Tuntunan Ibadah Menuju Ramadhan

Sya’ban adalah salah satu bulan yang mulia dan merupakan gerbang menuju bulan Ramadhan. Barang siapa yang berupaya membiasakan diri bersungguh-sungguh dalam beribadah di bulan ini, niscaya ia akan menuai kesuksesan di bulan Ramadhan.

Dinamakan Sya’ban karena pada bulan tersebut terpancar dan bercabang-cabang kebaikan yang banyak (yatasya’abu minhu khairun katsir). Pendapat lain mengatakan Sya’ban berasal dari kata Syi’b, yaitu jalan di sebuah gunung atau jalan kebaikan. Di bulan ini, terdapat banyak peristiwa penting yang patut menjadi perhatian kaum muslimin.

  1. Perpindahan Kiblat

Pada bulan Sya’ban, arah kiblat berpindah dari Baitul Maqdis (Palestina) ke Ka’bah (Makkah al-Mukarramah). Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) sangat menanti-nanti peristiwa ini dengan harapan yang tinggi. Setiap hari, beliau menengadahkan wajah ke langit, menanti wahyu dari Rabb-nya, hingga akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) mengabulkan penantian tersebut dengan menurunkan firman-Nya:

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al-Baqarah: 144)

  1. Diangkatnya Amal Manusia

Salah satu keistimewaan bulan Sya’ban adalah diangkatnya amal-amal manusia ke langit. Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam suatu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasamu di bulan Sya’ban.”

Maka beliau bersabda:

“Itulah bulan yang manusia lalai darinya, antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada Rabbul ‘Alamin. Dan saya menyukai amal saya diangkat, sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa’i)

  1. Keutamaan Puasa di Bulan Sya’ban

Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Adakah puasa yang paling utama setelah Ramadhan?” Beliau menjawab, “Puasa bulan Sya’ban karena mengagungkan bulan Ramadhan.”

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata:

“Adalah Rasulullah SAW berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak daripada di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)

Meskipun ada riwayat yang menyebutkan puasa di bulan-bulan mulia (asyhurul hurum) adalah yang paling utama setelah Ramadhan, Imam Nawawi menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memperbanyak puasa di Sya’ban mungkin karena beliau baru mengetahui keutamaan asyhurul hurum di akhir hayatnya, atau karena adanya uzur (sakit/bepergian) saat bulan-bulan mulia tersebut.

Intinya, puasa Sya’ban adalah latihan (training) sebelum memasuki Ramadhan, layaknya shalat sunnah rawatib sebelum shalat wajib.

Hukum Puasa Separuh Kedua Sya’ban Berpuasa khusus pada separuh kedua bulan Sya’ban tidak diperkenankan, kecuali jika:

  1. Menyambung puasa dari separuh pertama Sya’ban.
  2. Sudah menjadi kebiasaan (puasa Daud atau Senin-Kamis).
  3. Melakukan puasa qadha (ganti).
  4. Menjalankan puasa nazar.
  5. Tidak melemahkan semangat untuk puasa Ramadhan.
  1. Turunnya Ayat Shalawat Nabi

Bulan Sya’ban juga istimewa karena pada bulan inilah turun ayat anjuran bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

  1. Sya’ban, Bulan Al-Qur’an

Sya’ban juga dijuluki sebagai bulan Al-Qur’an. Syekh Ibnu Rajab al-Hambali meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa kaum muslimin ketika memasuki bulan Sya’ban, mereka menekuni pembacaan Al-Qur’an dan mengeluarkan zakat untuk membantu fakir miskin agar mereka kuat menjalani puasa Ramadhan.

Keistimewaan Malam Nisfu Sya’ban

Malam Nisfu Sya’ban (pertengahan Sya’ban) adalah malam yang penuh berkah. Pada malam ini, Allah SWT mengampuni orang yang memohon ampun, mengasihi yang memohon belas kasih, mengabulkan doa, menghilangkan kesusahan, membebaskan dari api neraka, serta mencatat rezeki dan amal manusia.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Allah melihat kepada semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban dan Dia mengampuni mereka semua, kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Thabarani dan Ibnu Hibban; dinilai shahih oleh Ibnu Hibban)

Nama-nama Lain Malam Nisfu Sya’ban: Banyaknya nama menandakan kemuliaan malam tersebut, di antaranya:

  1. Lailatul Mubarakah (Malam penuh berkah).
  2. Lailatul Qismah (Malam pembagian rezeki).
  3. Lailatut Takfir (Malam peleburan dosa).
  4. Lailatul Ijabah (Malam pengabulan doa).
  5. Lailatul Idil Malaikah (Malam hari raya malaikat).
  6. Lailatus Syafa’ah (Malam syafaat).
  7. Lailatul Bara’ah (Malam pembebasan).

Pro dan Kontra Seputar Nisfu Sya’ban

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambali menyebutkan bahwa meskipun banyak hadits tentang Nisfu Sya’ban berstatus dhaif (lemah), namun para ulama sepakat (seperti kata Imam Nawawi) bahwa hadits dhaif boleh digunakan untuk fadha’ilul a’mal (keutamaan amal), selama tidak terlalu lemah dan tidak untuk menentukan hukum halal-haram.

Mengenai tuduhan bid’ah, Imam Al-Ghazali dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa tidak semua hal baru itu terlarang. Bid’ah yang terlarang (sayyi’ah) adalah yang bertentangan dengan sunnah. Adapun hal baru yang baik menurut syariat disebut bid’ah hasanah (terpuji).

Syekh Ibnu Taimiyah pun mengakui adanya riwayat dari ulama salaf yang melakukan shalat pada malam Nisfu Sya’ban. Menghidupkan malam ini hukumnya sunnah (mustahab) dengan amalan seperti shalat sunnah mutlak, membaca Al-Qur’an, dzikir, doa, tasbih, dan shalawat.

Tuntunan dan Tradisi di Malam Nisfu Sya’ban

Rasulullah SAW bersabda (diriwayatkan Sayyidina Ali ra.):

“Jika tiba malam Nisfu Sya’ban, maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Karena sesungguhnya Allah menurunkan rahmat-Nya ke langit dunia mulai terbenam matahari…” (HR. Ibnu Majah)

Malam ini adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak doa, karena doa adalah senjata orang mukmin. Allah menjanjikan pengabulan doa bagi hamba-Nya selama tidak meminta hal yang berdosa atau memutus silaturahmi.

Tradisi Membaca Yasin Kebiasaan masyarakat membaca Surah Yasin tiga kali dengan niat (1) panjang umur dalam ketaatan, (2) tolak bala dan rezeki yang luas, serta (3) husnul khatimah, adalah hal yang diperbolehkan dan tidak dilarang, meskipun ada kelompok yang menganggapnya salah.

Peringatan Terhadap Hadits Palsu

Namun, perlu diwaspadai adanya hadits-hadits palsu tentang tata cara shalat tertentu di malam Nisfu Sya’ban. Salah satunya adalah riwayat yang menyebutkan “Shalat 14 rakaat dengan bacaan Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas masing-masing 14 kali”. Riwayat ini dan sejenisnya dinyatakan tidak berdasar dan bohong belaka (maudhu’).

Oleh karena itu, hidupkanlah malam Nisfu Sya’ban dengan ibadah-ibadah umum yang disyariatkan tanpa mengamalkan tata cara khusus yang berlandaskan hadits palsu.

(Disarikan dari kitab “Madza fi Sya’ban” karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki).

 

Imam Ibnu Dzakwan: Pewaris Qur’an dari Negeri Syam dan Sanad Abu Darda’

Imam Ibnu Dzakwan: Pewaris Qur’an dari Negeri Syam dan Sanad Abu Darda’

Dalam khazanah Qira’at Sab’ah (Tujuh Qira’at yang Mutawatir), nama Abdullah bin Ahmad bin Basyir bin Dzakwan menempati posisi yang sangat istimewa. Sosok yang lebih dikenal sebagai Imam Ibnu Dzakwan ini adalah perawi kedua dari Qira’at Imam Ibnu Amir al-Syami.

Beliau bukan sekadar perawi, melainkan ulama yang meneruskan estafet kepemimpinan Iqra’ (pengajaran Al-Qur’an) di Damaskus setelah wafatnya rekan sejawatnya, Imam Hisyam bin Ammar.

Profil Sang Imam

Lahir pada bulan Asyura tahun 173 H, Imam Ibnu Dzakwan memiliki kuniyah Abu Muhammad atau Abu Amr al-Dimasyqi. Beliau dikenal sebagai imam yang tsiqah (sangat terpercaya) dan masyhur. Posisinya sangat sentral di negeri Syam, di mana beliau menjabat sebagai Syaikhul Iqra’ (Guru Besar Al-Qur’an) sekaligus Imam Masjid Jami’ di Damaskus. Posisi ini menjadikan beliau rujukan utama masyarakat Syam dalam hal bacaan Al-Qur’an pada masanya.

Perjalanan Intelektual: Pertemuan Dua Mazhab

Perjalanan menuntut ilmu Imam Ibnu Dzakwan sangat istimewa karena beliau tidak hanya mengambil ilmu dari “kandang sendiri” (Syam), tetapi juga menyerap ilmu dari imam besar Kufah dan Madinah. Ini menunjukkan keterbukaan wawasan beliau terhadap variasi dialek Arab.

Guru-guru utama beliau antara lain:

  1. Ayyub bin Tamim: Guru utama tempat beliau belajar Qira’at secara talaqqi. Sanad ini bersambung melalui Yahya al-Dzimari hingga sampai ke Imam Ibnu Amir.
  2. Ali Al-Kisa’i (Imam Qira’at ke-7): Ini adalah fakta sejarah yang menarik. Ibnu Dzakwan sempat bertemu dan belajar langsung kepada Imam Al-Kisa’i saat sang Imam berkunjung ke Syam. Beliau berkata: “Saya menetap bersama Imam al-Kisa’i selama tujuh bulan dan berulangkali membaca Al-Qur’an kepadanya.”
  3. Ishaq bin al-Musayyibi: Dari murid Imam Nafi’ (Madinah) ini, Ibnu Dzakwan mempelajari sebagian “huruf” qira’at.

Keistimewaan Sanad dan Karakteristik Bacaan

Nilai paling prestisius dari riwayat Ibnu Dzakwan adalah sanadnya yang bermuara pada Abu Darda’ r.a., sahabat Nabi yang diutus khalifah Utsman bin Affan untuk mengajarkan Al-Qur’an di Syam.

Dalam aspek teknis (Ushul Qira’at), riwayat Ibnu Dzakwan memiliki karakter unik, di antaranya:

  • Sakt: Memiliki jalur periwayatan yang memberlakukan jeda halus tanpa napas di antara dua surah.
  • Imalah: Memiringkan bunyi harakat pada kata-kata tertentu, terutama pada Ha’ Ta’nits saat waqaf, yang menjadi ciri khas dialek luhur sebagian kabilah Arab masa lalu.

Komentar Ulama dan Karya Tulis

Kapasitas keilmuan Ibnu Dzakwan diakui secara luas lintas wilayah. Imam Abu Zar’ah al-Dimasyqi memberikan pujian tinggi:

“Menurut saya tidak ada di Iraq, Syam, Hijaz, Mesir, dan Khurasan pada masa Ibnu Dzakwan yang paling mahir soal qira’at dibanding dia.”

Selain mengajar, beliau produktif menulis. Di antara karyanya adalah:

  • Aqsam Al-Qur’an wa Jawabuha (Bagian-bagian Al-Qur’an dan Jawabannya).
  • Ma Yajibu ‘Ala Qari’ Al-Qur’an Inda Harakati Lisanihi (Panduan teknis bagi pembaca Al-Qur’an saat melafalkan huruf).

Murid dan Wafat

Sebagai magnet keilmuan, banyak penuntut ilmu datang kepadanya. Murid-murid beliau yang terkenal antara lain putranya sendiri (Ahmad bin Abdullah), Abu Zar’ah al-Dimasyqi, dan Harun bin Musa al-Akhfasy.

Setelah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Al-Qur’an, Imam Ibnu Dzakwan wafat pada tahun 243 H (beberapa riwayat menyebut 242 H). Warisan ilmunya tetap abadi, dijaga Allah, dan terus dibaca oleh umat Islam hingga hari ini sebagai salah satu dari 14 riwayat yang mutawatir.

Pin It on Pinterest