Dalam khazanah Qira’at Sab’ah (Tujuh Qira’at yang Mutawatir), nama Abdullah bin Ahmad bin Basyir bin Dzakwan menempati posisi yang sangat istimewa. Sosok yang lebih dikenal sebagai Imam Ibnu Dzakwan ini adalah perawi kedua dari Qira’at Imam Ibnu Amir al-Syami.
Beliau bukan sekadar perawi, melainkan ulama yang meneruskan estafet kepemimpinan Iqra’ (pengajaran Al-Qur’an) di Damaskus setelah wafatnya rekan sejawatnya, Imam Hisyam bin Ammar.
Profil Sang Imam
Lahir pada bulan Asyura tahun 173 H, Imam Ibnu Dzakwan memiliki kuniyah Abu Muhammad atau Abu Amr al-Dimasyqi. Beliau dikenal sebagai imam yang tsiqah (sangat terpercaya) dan masyhur. Posisinya sangat sentral di negeri Syam, di mana beliau menjabat sebagai Syaikhul Iqra’ (Guru Besar Al-Qur’an) sekaligus Imam Masjid Jami’ di Damaskus. Posisi ini menjadikan beliau rujukan utama masyarakat Syam dalam hal bacaan Al-Qur’an pada masanya.
Perjalanan Intelektual: Pertemuan Dua Mazhab
Perjalanan menuntut ilmu Imam Ibnu Dzakwan sangat istimewa karena beliau tidak hanya mengambil ilmu dari “kandang sendiri” (Syam), tetapi juga menyerap ilmu dari imam besar Kufah dan Madinah. Ini menunjukkan keterbukaan wawasan beliau terhadap variasi dialek Arab.
Guru-guru utama beliau antara lain:
- Ayyub bin Tamim: Guru utama tempat beliau belajar Qira’at secara talaqqi. Sanad ini bersambung melalui Yahya al-Dzimari hingga sampai ke Imam Ibnu Amir.
- Ali Al-Kisa’i (Imam Qira’at ke-7): Ini adalah fakta sejarah yang menarik. Ibnu Dzakwan sempat bertemu dan belajar langsung kepada Imam Al-Kisa’i saat sang Imam berkunjung ke Syam. Beliau berkata: “Saya menetap bersama Imam al-Kisa’i selama tujuh bulan dan berulangkali membaca Al-Qur’an kepadanya.”
- Ishaq bin al-Musayyibi: Dari murid Imam Nafi’ (Madinah) ini, Ibnu Dzakwan mempelajari sebagian “huruf” qira’at.
Keistimewaan Sanad dan Karakteristik Bacaan
Nilai paling prestisius dari riwayat Ibnu Dzakwan adalah sanadnya yang bermuara pada Abu Darda’ r.a., sahabat Nabi yang diutus khalifah Utsman bin Affan untuk mengajarkan Al-Qur’an di Syam.
Dalam aspek teknis (Ushul Qira’at), riwayat Ibnu Dzakwan memiliki karakter unik, di antaranya:
- Sakt: Memiliki jalur periwayatan yang memberlakukan jeda halus tanpa napas di antara dua surah.
- Imalah: Memiringkan bunyi harakat pada kata-kata tertentu, terutama pada Ha’ Ta’nits saat waqaf, yang menjadi ciri khas dialek luhur sebagian kabilah Arab masa lalu.
Komentar Ulama dan Karya Tulis
Kapasitas keilmuan Ibnu Dzakwan diakui secara luas lintas wilayah. Imam Abu Zar’ah al-Dimasyqi memberikan pujian tinggi:
“Menurut saya tidak ada di Iraq, Syam, Hijaz, Mesir, dan Khurasan pada masa Ibnu Dzakwan yang paling mahir soal qira’at dibanding dia.”
Selain mengajar, beliau produktif menulis. Di antara karyanya adalah:
- Aqsam Al-Qur’an wa Jawabuha (Bagian-bagian Al-Qur’an dan Jawabannya).
- Ma Yajibu ‘Ala Qari’ Al-Qur’an Inda Harakati Lisanihi (Panduan teknis bagi pembaca Al-Qur’an saat melafalkan huruf).
Murid dan Wafat
Sebagai magnet keilmuan, banyak penuntut ilmu datang kepadanya. Murid-murid beliau yang terkenal antara lain putranya sendiri (Ahmad bin Abdullah), Abu Zar’ah al-Dimasyqi, dan Harun bin Musa al-Akhfasy.
Setelah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Al-Qur’an, Imam Ibnu Dzakwan wafat pada tahun 243 H (beberapa riwayat menyebut 242 H). Warisan ilmunya tetap abadi, dijaga Allah, dan terus dibaca oleh umat Islam hingga hari ini sebagai salah satu dari 14 riwayat yang mutawatir.








0 Komentar