langitanmabin@gmail.com

Diklat TPQ An Nahdliyah PP Langitan 2023

Diklat TPQ An Nahdliyah PP Langitan 2023

Untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan santri dalam bacaan Al-Qur’an, OSIS Madrasah Aliyah al-Falahiyah mengadakan Diklat TPQ an-Nahdliyah. Acara tersebut berlangsung selama dua hari mulai hari Kamis dan berakhir pada hari Jumat 9-10 Februari 2023 di Gedung Aam Lt. 3.

Setelah pembukaan oleh Kh. Abdurrohman Faqih, acara dilanjutkan dengan pengijazahan huruf hijaiyah oleh Ust. Irhamni Masyhadi dan ijazah Hizb Khofi beserta wadhifah yaumiyah oleh Ust. Khoirul Huda Wahid.

Diklat tersebut diisi oleh 5 mentor yang terkenal ahli dalam bidang Al-Qur’an. Seperti KH. Hasyim Fahmi, Ust. Irhamni Masyhadi, Ust. Rofiul Himam, Ust. Khoirul Huda Wahid, dan Ust. Damanhuri.

Gus Fahmi (mentor ahli) mengatakan bahwasanya para santri tidak boleh gamang dalam mengikuti TPQ An-Nahdliyah. Dikarenakan sudah mendapat ridha dari beliau Romo KH. Abdullah Faqih.

“Seng mantep karo An-Nahdliyah, soale wes diridhoi karo beliau KH. Abdullah Faqih.” Dawuh beliau saat diklat.

Agenda Diklat TPQ an-Nahdliyah sendiri terhitung mulai tahun 2021 telah dipatenkan untuk diadakan setahun sekali. Menghapus program sebelumnya 2 tahun sekali. Beralih program seperti ini karena setiap peserta wajibnya adalah dari kelas 7 MAF yang mana di saat mereka sudah naik kelas 8 maka sudah bisa untuk mengajar TPQ di Madrasah al-Falahiyah. Untuk peserta sendiri terhitung keseluruhan berjumlah 210 peserta.

Ada juga sesi praktek di mana para peserta yang ditunjuk akan maju untuk mengajar menjadi guru TPQ. Dan sesi munaqosah peserta diadakan satu hari setelah diklat dilaksanakan. (soe)

Hikmah Huruf Ba Sebagai Awal Basmalah

Hikmah Huruf Ba Sebagai Awal Basmalah

Banyak artikel dan kajian telah berusaha mengurai makna basmalah (bismillahirrohmanirrohiim) dan rahasianya, namun rasanya tidak mungkin akan habis hingga hari kiamat. Ini membuktikan betapa luasnya ilmu Allah yang tertuang dalam lafal basmalah.

Basmalah merupakan ayat pertama surah al-Fatihah yang terdiri dari 19 huruf dan diawali huruf “ba”. Mengapa harus huruf ba, tidak huruf yang lain? Syekh Sayid Bakari al-Makki bin Sayid Muhammad Syatho ad-Dimyati menjawab pertanyaan ini dalam kitabnya Kifayah al-Atqiya wa Minhaj al-Asyfiya,

Ilmu Allah Terkandung dalam Huruf “Ba”

وَقَالُوْا اَوْدَعَ اللهُ جَمِيْعَ الْعُلُوْمِ فِي الْبَاءِ أَيْ بِيْ كَانَ مَا كَانَ وَبِيْ يَكُوْنُ مَايَكُوْنُ فَوُجُوْدُ الْعَوَالِمِ بِيْ  “

Ulama ahli tasawuf mengatakan, ‘Allah menitipkan seluruh ilmunya pada huruf ba, yaitu karena kekuasaan-Ku (bî) wujudlah segala sesuatu yang telah ada, karena kekuasaan-Ku pula terwujud sesuatu yang akan ada, dan adanya alam semesta adalah atas kekuasaan-Ku.”

Pernyataan ini merupakan makna dari perkataan para ulama “Saya tidak melihat segala sesuatu kecuali di situ ada Allah.” Segala bentuk ciptaan yang ada di alam ini adalah ciptaan Allah, adanya karena diadakan oleh Allah, dan tiadannya karena ditiadakan oleh Allah. Dengan demikian mustahil Allah tidak mengetahui apa-apa yang telah Ia ciptakan. Sehingga para ulama memahami bahwa apa saja yang mereka lihat di situ pula ada pengawasan Allah yang telah mencipta.

Huruf Ba Pertama Diucapkan oleh Manusia

Syekh Sayid Bakari al-Makki menambahkan bahwa ba merupakan huruf bibir. Melafalkannya menjadi sebab terbukanya mulut. Awal terbukanya mulut manusia adalah ketika mengucapkan kesaksian bahwa Allah adalah tuhannya.

والحكمة في ان الله جعل افتتاح البسملة بالباء دون غيرها من الحروف لانها حرف شفوي تنفتح به الشفة ولذلك كان اول انفتاح فم الذرة الانسانية في عهد ألست بربكم بالباء في جواب بلى

“Hikmah Allah menjadikan huruf ba sebagai awal basmalah, bukan huruf yang lain adalah karena huruf ba adalah huruf bibir yang mengucapkannya menyebabkan terbukanya bibir. Dengan demikian pertamakali terbukanya mulut manusia adalah ketika menjawab pertanyaan Allah ألست بربكم (bukankah kami adalah tuhanmu?), بلى (ya kami bersaksi) (diawali huruf ba).

” وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS. Al-A’raf[7]: 172).

Penjelasan selanjutnya bahwa huruf ba pada lafal basmalah selamanya dibaca kasrah. Dalam bahasa Arab disebut dengan huruf jar. Kata al-Jaru dalam buku M. Kholilur Rohman Lantunan Bait Sentuhan Ruh diartikan rendah hati.

والاسم قد حصص بالجر كما قد حصص الفعل بأن ينجزم

“I’rab jar adalah khusus bertempat pada isim (kata benda), sebagaimana i’rab jazam bertempat pada fi’il (kata kerja).”

Menurutnya, isim atau dalam arti harfiah adalah derajat yang tinggi, sedangkan derajat yang tinggi dapat diperoleh dengan rendah hati (الجر) (M. Kholilur Rohman, Lantunan Bait Sentuhan Ruh, Jombang: Darul Hikmah, hal. 32).

Senada dengan penjelasan tersebut, Syekh Sayid Bakari al-Makki membedakan makna sifat huruf ba dan alif dengan dua sifat yang saling berlawanan.

فإن فيها ترفعا تكثرا وتطولا فلذلك اسقطت

“Sesungguhnya pada huruf alif terkandung makna merasa paling tinggi derajatnya, merasa paling banyak memilikinya dan berfungsi untuk memanjangkan bacaan, karena sebab inilah huruf alif dibuang” (Syekh Sayid Bakari al-Makki bin Sayid Muhammad Syatho ad-Dimyati, Kifayah al-Atqiya wa Minhaj al-Asyfiya, Indonesia: Dar Al-Ihya, hal. 4).

Lafal بسم terdiri dari kata yaitu huruf ba, dan ismi yang biasa diartikan dengan “menyebut nama”. Pada lafal basmalah (dalam Rasm Utsmani, red) tidak ditulis bi ismillah (باسم الله), namun alif-nya dibuang menjadi bismillah (بسم الله) karena alif mengandung makna yang berlawanan dengan huruf ba pada awal basmalah.

Baca juga: Sudahkah Kita Meresapi dan Mengamalkan Makna Basmalah?

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa huruf huruf ba dipilih oleh Allah menjadi awal basmalah oleh sebagaian ulama ditafsirkan karena beberapa sebab, di antanya;

Pertama, ba adalah huruf yang di dalamnya terkandung ilmu Allah, dengan memaknai ba sebagai kekuasaan (dengan kukuasaan-Ku…).

Kedua, huruf ba adalah huruf yang diucapkan hamba di hadapan Allah pertama kali yaitu pada kata بلى sebagai bentuk kesaksian bahwa Allah adalah satu-satunya sesembahan, pencipta dan penguasa alam semesta.

Ketiga, secara harfiah huruf ba memiliki makna yang lebih baik dibandingkan huruf-huruf lainnya termasuk alif. Sehingga basmalah diawali dengan huruf ba bukan huruf yang lain. Pastinya masih banyak penafsiran-penafsiran lain terkait basmalah, baik secara makna per kata (huruf Ba, Ism, Allah, ar-Rahman, dan ar-Rahim) maupun secara keseluruhan.

Jika satu huruf dari Al-Qur’an sedemikian luas makna dan manfaatnya, bagaimana dengan seluruh huruf dalam al-Qur’an? Semoga kita senantiasa diberikan kemudahan dalam memahami ayat-ayat Allah, dan dimudahkan pula untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga benar-benar menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk hidup agar dapat meraih keselamatan dunia dan akhirat.

Sumber: https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/mengapa-basmalah-diawali-huruf-ba-CwN37

Rapat Koordinasi Kortan Yayasan An Nahdliyah Langitan

Rapat Koordinasi Kortan Yayasan An Nahdliyah Langitan

Dengan pembacaan istighosah, doa bulan rajab serta sholawat rapat triwulan dimulai sejak pukul 19.30 wib hingga selesai . Progam Mabin Langitan setiap tiga bulan ini dilaksanakan oleh Jajaran Pengurus Yayasan Mabin An Nahdliyah Langitan dan Ketua Kortan (koordinator kecamatan) yang bernaungan dibawah Yayasan Mabin An Nahdliyah Langitan.

Progam ini merupakan upaya untuk saling mengenal antar pengurus dan setiap ketua kortan. Progam triwulan kali ini  bertempat di aula villa Asia Jaya pacet Mojokerto dengan mengusung tema “Bersama Membentuk Generasi Qur’ani”.

Sementara rangkaian dalam kegiatan tersebut:

  • Pembukaan 
  • Sambutan Atas nama Pengurus Yayasan Mabin An Nahdliyah Langitan
  • Laporan-laporan
  • Doa
5 Ancaman Memakan Harta Anak Yatim secara Zalim

5 Ancaman Memakan Harta Anak Yatim secara Zalim

Jika Anda mendapat amanah mengasuh anak-anak yatim, atau jika di sekeliling tempat tinggal Anda ada anak yatim, maka jangan sekali-kali memakan hartanya secara zalim.

Memakan harta anak yatim atau menggunakannya untuk kepentingan sendiri tanpa seizin mereka merupakan hal yang dibenci Allah dan rasul-Nya.

Dalam kitab Irsyadul Ibad disebutkan beberapa ancaman bagi mereka yang memakai harta anak yatim secara zalim. Ancaman tersebut di antaranya adalah:

Pertama, akan dimasukkan ke neraka dengan api yang menyala-nyala. Dalam surat an-Nisa ayat 10, secara tegas Allah Swt. mengancam pelakunya dengan siksa api neraka, dan harta-harta yang mereka makan itu diumpamakan sebagai kobaran api menyala yang dimasukkan ke dalam perutnya.

Allah Swt. berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارً‌ا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرً‌ا

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak-anak yatim dengan zalim, sejatinya mereka memakan di dalam perutnya api neraka dan mereka akan masuk neraka yang menyala-nyala.” (QS. an-Nisa: 10).

Kedua, akan dibinasakan. Syaikh Zainuddin al-Malibari dalam kitabnya menyebutkan hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ. يَا رَسُولَ اللَّهِ  وَمَا هي ؟ الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَأَكْلُ الرِّبَا، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ

“Jauhilah oleh kalian 7 hal yang membinasakan.” Maka para sahabat bertanya: ‘Ya Rasulullah, apa 7 hal tersebut?’ Maka nabi yang mulia mengatakan: “(1) Dosa kesyirikan kepada Allah, (2) Dosa sihir, (3) Dosa membunuh seorang jiwa yang diharamkan oleh Allah melainkan dengan alasan yang hak, (4) Dosa memakan harta riba, (5) Dosa memakan harta anak yatim, (6) Dosa berpaling dari medan perang, dan (7) Dosa menuduh seorang wanita muslimah yang terhormat dengan tujuan yang keji (zina),” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Ketiga, tidak berhak dimasukkan surga. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.:

أَرْبَعٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ أَلَّا يُدْخِلَهُمُ الْجَنَّةَ ، وَلَا يُذِيقَهُمْ نَعِيمَهَا : مُدْمِنُ الْخَمْرِ ، وَآكِلُ الرِّبَا ، وَآكِلُ مَالِ الْيَتِيمِ بِغَيْرِ  حَقِّ ، وَآلْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ .

“Terdapat empat orang yang tidak berhak bagi Allah untuk memasukkan mereka ke surga dan mencicipkan kenikmatan di dalamnya. Yaitu, orang yang membiasakan minum khamr (arak), orang yang memakan harta riba, orang yang memakan harta anak yatim dengan tanpa hak, dan orang yang berani kepada kedua orang tua.”

|BACA JUGA: NGAJI IRSYADUL IBAD: KEADAAN PEMBANTU ORANG ZALIM SETELAH MATI

Keempat, tidak akan dikabulkan doanya. Diriwayatkan dari Abu Musa r.a.:

عن أبي موسى : ثَلَاثَةٌ يَدْعُونَ اللهَ فَلَا يُسْتَجَابُ لَهُمْ : رَجُلٌ كَانَتْ تَحْتَهُ امْرَأَةٌ سَيِّئَةُ الْخُلُقِ فَلَمْ يُطَلَّقَهَا ، وَرَجُلٌ كَانَ لَهُ مَالٌ عَلَى رَجُلٍ آخَرَ وَلَمْ يُشْهِدْ عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ آتَى سَفِيها مَالَهُ. وَقَدْ قَالَ اللهُ : وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءُ اَمْوَالِكُمْ

“Tiga orang yang tidak akan dikabulkan doanya. Yaitu, lelaki yang mempunyai istri yang buruk pekertinya, tetapi tidak diceraikan, lelaki yang memiliki uang milik orang lain, tetapi tidak mengakuinya, dan lelaki yang memberikan harta kepada orang yang safiih (orang yang tertolak tasharrufnya, karena belum sempurna akalnya, seperti anak yatim yang masih kecil). Padahal Allah telah berfirman, “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaan) kamu.”

Kelima, termasuk dosa besar. Syaikh Zainuddin menyebutkan bahwa memakan harta anak yatim itu termasuk dosa besar yang membinasakan menurut kesepakatan ulama. Tidak peduli sedikit atau banyaknya.

إنَّ أكْلَ مَالِ الْيَتِيْمِ مِنَ الكبائرِ المُهْلِكَةِ اتفاقاً، وَظاَهِرُ كَلاَمِهِمْ : لاَ فَرْقَ بَيْنَ قَلِيْلِهِ وَكَثِيْرِهِ وَلَوْ حَبَّةً

“Sesungguhnya memakan harta anak yatim adalah salah satu dosa besar dan mematikan dalam kesepakatan ulama. Dan jelas bahwa mereka berkata: Tidak ada perbedaan antara sedikit dan banyak, bahkan sebutir biji-bijian.”

Penulis: Mahir Riyadl

Editor: Abdullah Alfaiq

Sumber:

  1. Ngaji Irsyadul Ibad, KH. Ubaidillah Faqih, Rabu (14/12/2022). https://youtu.be/7T2aoTE_s3k
  2. Syekh Zainuddin Al-Malibari, C. (2018). Irsyadul Ibad Ila Sabilil Rosyad. Beirut Lebanon: Darul Minhaj.
  3. https://langitan.net/ngaji-irsyadul-ibad-5-ancaman-memakan-harta-anak-yatim-secara-zalim/
Do’a Santri untuk Negeri: 50.000 Santri Mabin Langitan Padati Masjid Al Akbar Surabaya dalam Istighotsah Kubro

Do’a Santri untuk Negeri: 50.000 Santri Mabin Langitan Padati Masjid Al Akbar Surabaya dalam Istighotsah Kubro

SURABAYA – Sebanyak kurang lebih 50.000 santri dari Yayasan Mabin An Nahdliyah Langitan memadati Masjid Nasional Al Akbar Surabaya untuk mengikuti acara Khotmil Qur’an & Istighotsah Kubro Ke-IX. Acara yang berlangsung selama dua hari, Rabu hingga Kamis (28-29/12), ini mengusung tema “Do’a Santri untuk Negeri” dan berjalan dengan penuh khidmat.

Rangkaian acara dimulai pada hari Rabu (28/12) pagi. Kegiatan diawali dengan pembacaan Al-Qur’an bin Nadlhor (khataman) oleh para santri pilihan yang berasal dari berbagai lembaga di bawah naungan Yayasan Mabin Langitan. Suasana khusyuk sudah terasa sejak hari pertama, menandai kesakralan acara.

Puncak acara dilaksanakan pada Kamis (29/12) pagi. Dipandu oleh MC Ust. H. Mufrodi Masyhadi, acara dibuka dengan Iftitah bil Fatihah yang dipimpin oleh KH. Abdullah Munif Marzuqi. Gema sholawat kemudian membahana di seluruh penjuru masjid saat Ust. Khoirul Huda melantunkan Sholawat Ya Robbana, disusul dengan penampilan bakat dari para santri.

Acara dilanjutkan dengan sesi sambutan yang diisi oleh para tokoh penting. Sambutan pertama disampaikan oleh perwakilan pengurus Mabin Pusat Tulungagung, KH. Abdul Hakim Musthofa. Kemudian dilanjutkan oleh KH. Ahmi Muhtarom dan KH. Ahsan Ghozali, MA.

Memasuki acara inti, suasana menjadi semakin khidmat saat pembacaan Istighotsah sekaligus Mahallul Qiyam dipimpin oleh KH. Abdullah Habib Faqih. Puluhan ribu jemaah larut dalam doa dan zikir bersama. Nasihat dan pencerahan rohani (mauidloh hasanah) kemudian disampaikan oleh ulama kharismatik, KH. Marzuqi Mustamar, yang memberikan pesan-pesan mendalam bagi para santri dan hadirin.

Gubernur Jawa Timur, Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Sos., turut memberikan sambutan terakhir, mengapresiasi peran santri dalam mendoakan dan membangun negeri. Rangkaian acara akbar ini ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Miftachul Akhyar, memohon keberkahan bagi bangsa dan negara.

Acara ini tidak hanya dihadiri oleh para santri TPQ Metode An Nahdliyah, tetapi juga oleh para asatidz dan jajaran pejabat tinggi dari Surabaya dan Provinsi Jawa Timur. Keseluruhan acara berjalan dengan lancar, khusyuk, dan penuh khidmat, mencerminkan semangat kebersamaan dan spiritualitas para santri untuk kebaikan negeri.