langitanmabin@gmail.com

5 Ancaman Memakan Harta Anak Yatim secara Zalim

5 Ancaman Memakan Harta Anak Yatim secara Zalim

Jika Anda mendapat amanah mengasuh anak-anak yatim, atau jika di sekeliling tempat tinggal Anda ada anak yatim, maka jangan sekali-kali memakan hartanya secara zalim.

Memakan harta anak yatim atau menggunakannya untuk kepentingan sendiri tanpa seizin mereka merupakan hal yang dibenci Allah dan rasul-Nya.

Dalam kitab Irsyadul Ibad disebutkan beberapa ancaman bagi mereka yang memakai harta anak yatim secara zalim. Ancaman tersebut di antaranya adalah:

Pertama, akan dimasukkan ke neraka dengan api yang menyala-nyala. Dalam surat an-Nisa ayat 10, secara tegas Allah Swt. mengancam pelakunya dengan siksa api neraka, dan harta-harta yang mereka makan itu diumpamakan sebagai kobaran api menyala yang dimasukkan ke dalam perutnya.

Allah Swt. berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارً‌ا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرً‌ا

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak-anak yatim dengan zalim, sejatinya mereka memakan di dalam perutnya api neraka dan mereka akan masuk neraka yang menyala-nyala.” (QS. an-Nisa: 10).

Kedua, akan dibinasakan. Syaikh Zainuddin al-Malibari dalam kitabnya menyebutkan hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ. يَا رَسُولَ اللَّهِ  وَمَا هي ؟ الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَأَكْلُ الرِّبَا، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ

“Jauhilah oleh kalian 7 hal yang membinasakan.” Maka para sahabat bertanya: ‘Ya Rasulullah, apa 7 hal tersebut?’ Maka nabi yang mulia mengatakan: “(1) Dosa kesyirikan kepada Allah, (2) Dosa sihir, (3) Dosa membunuh seorang jiwa yang diharamkan oleh Allah melainkan dengan alasan yang hak, (4) Dosa memakan harta riba, (5) Dosa memakan harta anak yatim, (6) Dosa berpaling dari medan perang, dan (7) Dosa menuduh seorang wanita muslimah yang terhormat dengan tujuan yang keji (zina),” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Ketiga, tidak berhak dimasukkan surga. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.:

أَرْبَعٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ أَلَّا يُدْخِلَهُمُ الْجَنَّةَ ، وَلَا يُذِيقَهُمْ نَعِيمَهَا : مُدْمِنُ الْخَمْرِ ، وَآكِلُ الرِّبَا ، وَآكِلُ مَالِ الْيَتِيمِ بِغَيْرِ  حَقِّ ، وَآلْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ .

“Terdapat empat orang yang tidak berhak bagi Allah untuk memasukkan mereka ke surga dan mencicipkan kenikmatan di dalamnya. Yaitu, orang yang membiasakan minum khamr (arak), orang yang memakan harta riba, orang yang memakan harta anak yatim dengan tanpa hak, dan orang yang berani kepada kedua orang tua.”

|BACA JUGA: NGAJI IRSYADUL IBAD: KEADAAN PEMBANTU ORANG ZALIM SETELAH MATI

Keempat, tidak akan dikabulkan doanya. Diriwayatkan dari Abu Musa r.a.:

عن أبي موسى : ثَلَاثَةٌ يَدْعُونَ اللهَ فَلَا يُسْتَجَابُ لَهُمْ : رَجُلٌ كَانَتْ تَحْتَهُ امْرَأَةٌ سَيِّئَةُ الْخُلُقِ فَلَمْ يُطَلَّقَهَا ، وَرَجُلٌ كَانَ لَهُ مَالٌ عَلَى رَجُلٍ آخَرَ وَلَمْ يُشْهِدْ عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ آتَى سَفِيها مَالَهُ. وَقَدْ قَالَ اللهُ : وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءُ اَمْوَالِكُمْ

“Tiga orang yang tidak akan dikabulkan doanya. Yaitu, lelaki yang mempunyai istri yang buruk pekertinya, tetapi tidak diceraikan, lelaki yang memiliki uang milik orang lain, tetapi tidak mengakuinya, dan lelaki yang memberikan harta kepada orang yang safiih (orang yang tertolak tasharrufnya, karena belum sempurna akalnya, seperti anak yatim yang masih kecil). Padahal Allah telah berfirman, “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaan) kamu.”

Kelima, termasuk dosa besar. Syaikh Zainuddin menyebutkan bahwa memakan harta anak yatim itu termasuk dosa besar yang membinasakan menurut kesepakatan ulama. Tidak peduli sedikit atau banyaknya.

إنَّ أكْلَ مَالِ الْيَتِيْمِ مِنَ الكبائرِ المُهْلِكَةِ اتفاقاً، وَظاَهِرُ كَلاَمِهِمْ : لاَ فَرْقَ بَيْنَ قَلِيْلِهِ وَكَثِيْرِهِ وَلَوْ حَبَّةً

“Sesungguhnya memakan harta anak yatim adalah salah satu dosa besar dan mematikan dalam kesepakatan ulama. Dan jelas bahwa mereka berkata: Tidak ada perbedaan antara sedikit dan banyak, bahkan sebutir biji-bijian.

Penulis: Mahir Riyadl

Editor: Abdullah Alfaiq

Sumber:

  1. Ngaji Irsyadul Ibad, KH. Ubaidillah Faqih, Rabu (14/12/2022). https://youtu.be/7T2aoTE_s3k
  2. Syekh Zainuddin Al-Malibari, C. (2018). Irsyadul Ibad Ila Sabilil Rosyad. Beirut Lebanon: Darul Minhaj.
  3. https://langitan.net/ngaji-irsyadul-ibad-5-ancaman-memakan-harta-anak-yatim-secara-zalim/
Do’a Santri untuk Negeri: 50.000 Santri Mabin Langitan Padati Masjid Al Akbar Surabaya dalam Istighotsah Kubro

Do’a Santri untuk Negeri: 50.000 Santri Mabin Langitan Padati Masjid Al Akbar Surabaya dalam Istighotsah Kubro

SURABAYA – Sebanyak kurang lebih 50.000 santri dari Yayasan Mabin An Nahdliyah Langitan memadati Masjid Nasional Al Akbar Surabaya untuk mengikuti acara Khotmil Qur’an & Istighotsah Kubro Ke-IX. Acara yang berlangsung selama dua hari, Rabu hingga Kamis (28-29/12), ini mengusung tema “Do’a Santri untuk Negeri” dan berjalan dengan penuh khidmat.

Rangkaian acara dimulai pada hari Rabu (28/12) pagi. Kegiatan diawali dengan pembacaan Al-Qur’an bin Nadlhor (khataman) oleh para santri pilihan yang berasal dari berbagai lembaga di bawah naungan Yayasan Mabin Langitan. Suasana khusyuk sudah terasa sejak hari pertama, menandai kesakralan acara.

Puncak acara dilaksanakan pada Kamis (29/12) pagi. Dipandu oleh MC Ust. H. Mufrodi Masyhadi, acara dibuka dengan Iftitah bil Fatihah yang dipimpin oleh KH. Abdullah Munif Marzuqi. Gema sholawat kemudian membahana di seluruh penjuru masjid saat Ust. Khoirul Huda melantunkan Sholawat Ya Robbana, disusul dengan penampilan bakat dari para santri.

Acara dilanjutkan dengan sesi sambutan yang diisi oleh para tokoh penting. Sambutan pertama disampaikan oleh perwakilan pengurus Mabin Pusat Tulungagung, KH. Abdul Hakim Musthofa. Kemudian dilanjutkan oleh KH. Ahmi Muhtarom dan KH. Ahsan Ghozali, MA.

Memasuki acara inti, suasana menjadi semakin khidmat saat pembacaan Istighotsah sekaligus Mahallul Qiyam dipimpin oleh KH. Abdullah Habib Faqih. Puluhan ribu jemaah larut dalam doa dan zikir bersama. Nasihat dan pencerahan rohani (mauidloh hasanah) kemudian disampaikan oleh ulama kharismatik, KH. Marzuqi Mustamar, yang memberikan pesan-pesan mendalam bagi para santri dan hadirin.

Gubernur Jawa Timur, Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Sos., turut memberikan sambutan terakhir, mengapresiasi peran santri dalam mendoakan dan membangun negeri. Rangkaian acara akbar ini ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Miftachul Akhyar, memohon keberkahan bagi bangsa dan negara.

Acara ini tidak hanya dihadiri oleh para santri TPQ Metode An Nahdliyah, tetapi juga oleh para asatidz dan jajaran pejabat tinggi dari Surabaya dan Provinsi Jawa Timur. Keseluruhan acara berjalan dengan lancar, khusyuk, dan penuh khidmat, mencerminkan semangat kebersamaan dan spiritualitas para santri untuk kebaikan negeri.

Wisuda Ke-III PGTPQ An Nahdliyah Langitan

Wisuda Ke-III PGTPQ An Nahdliyah Langitan

Mabin An Nahdliyah Langitan melangsungkan wisuda Pendidikan Guru Taman Pendidikan Al- Qur’an (PGTPQ) ke III di gedung Graha Sandiya PT. Semen Gresik Tuban. Rabu, (22/6/22).

67 peserta wisuda yang terdiri dari 13 wisudawan dan 54 wisudawati yang merupakan tenaga pengajar atau calon pengajar di lembaga pendidikan agama islam tersebut, dianggap telah menguasai berbagai macam ilmu yang diajarkan di kelas PGTPQ sehingga layak mendapatkan predikat kelulusan. 

Ketua Mabin An Nahdliyah Langitan, Ustadz Syifaul Adha, menjelaskan, jika PGTPQ adalah progam unggulan  Mabin Langitan, Kabupaten Tuban, yang mempunyai misi mengantarkan mahasiswa – mahasiswinya menjadi Guru Al Qur’an yang profesional.

Ditempuh selama 6 semester atau 3 tahun, program ini dapat diikuti oleh semua guru atau calon guru TPQ/ Al Qur’an dengan syarat yang mudah, yakni sudah mempunyai Syahadah Diklat TPQ An Nahdliyah dan atau Lulus tes baca Al Qur’an. 

“Program PGTPQ An Nahdliyah ini ditempuh selama 6 semester dan bisa diikuti oleh guru maupun calon guru TPQ atau Al- Qur’an,” terangnya kepada Surabaya Pagi. 

Sebagai sarana penggemblengan dan pendalaman ilmu Al- Qur’an salah satunya, Syifaul Adha tentu berharap, program PGTPQ bisa mencetak wisudawan yang menguasai Ilmu baca Al Qur’an, mempunyai sanad Al Quran serta dapat menjadi Guru Al Qur’an yg profesional dan bisa menguasai psikologi Anak sekaligus psikologi pendidikan. 

“Kami tentu berharap, Output program PGTPQ ini mampu mencetak wisudawan yang berkualitas dibidang Al- Qur’an dan pendidikan,” imbuhnya. 

Di tempat yang sama, salah satu Wisudawati, Faridatum Maghfiroh yang berasal dari Baureno, Kabupaten Bojonegoro mengatakan rasa syukur dengan adanya program PGTPQ yang diselenggarakan oleh Mabin An Anahdliyah Langitan. 

Darinya, ia mengaku bisa belajar banyak tentang bagaimana tatacara mengajar TPQ dengan baik dan benar, ditambah adanya ilmu- ilmu lain yang dapat ia serap saat proses belajar berlangsung. 

“Alhamdulillah saya bersyukur bisa mengikuti PGTPQ. Saya bisa memperoleh ilmu yang banyak disini,” ujarnya.

Sebagai seorang pengajar di salah satu lembaga TPQ di Kabupaten Bojonegoro, dengan tegas ia menyatakan akan menerapkan semua ilmu yang didapat saat belajar di PGTPQ An Nahdliyah Langitan. 

Sebab menurutnya, banyak khazanah baru baik itu metode maupun keilmuan  yang harus disampaikan kepada anak didiknya (santri) di lembaga tempat ia mengabdi tersebut. 

 

Kasih Sayang Kepada Sesama Makhluk

Kasih Sayang Kepada Sesama Makhluk

Dari Abdullah bin Umar Ra. Ia berkata, “ Rasulullah Saw. bersabada

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang suka menyayang, mereka itu akan dikasihani oleh Yang Maha Pengasih. Kasihanilah siapa yang berada di bumi, niscaya kamu akan dikasihani oleh yang berada di langit.”

Perihal yang sesuai dengan Hadis ini ialah hikayat yang diriwayatkan Umar Ra. bahwa ia sedang berjalan di Madinah, lalu melihat seorang anak memegang seekor burung kecil sambil mempermainkannya. Umar kasihan kepada burung itu lalu dibelinya kemudian dilepaskannya.

Tatkala Umar Ra. meninggal dunia, banyak orang melihatnya dalam mimpi dan menanyakan keadaannya dalam itu, “Apakah yang dilakukan Allah padamu?” Umar menjawab.”Allah mengampuni dan memaafkan aku.”

Orang-orang itu bertanya,” dengan apa engkau mendapatkan ampunan itu, apakah dengan keadilan atau dengan kezuhudanmu?” Umar menjawab. “tatkala kalian masukan aku di dalam kubur dan menutupiku dengan tanah, kalian tinggalkan aku sendirian. Kemudian datang dua malaikat yang menakutkan, sehingga hilang akal dan gemetar persendianku lantaran kewibawaan mereka. Keduanya memegang, mendudukan dan ingin menanyaiku. Ku-dengar dari suara gaib “Tinggalkan hamba-ku dan jangan menakutkanya, Aku telah mengasihani dan memaafkannya sebab ia mengasihi burung ketika di dunia sehingga Aku mengasihi di akhirat.”

Cerita lain, adalah seorang ahli ibadat dari bani israil lewat di suatu gundukan tanah. Saat itu bani israil ditimpa kelaparan. Ia bercita-cita dalam hati, seandainya tanah itu berbah menjadi tepung, niscaya bisa mengenyangkan perut bani israil. Kemudian Allah mewahyukan kepada salah seorang nabi mereka (Bani Israil), “katakanlah kepada si fulan, bahwa Allah Swt. telah memberikan pahala bagimu seperti andaikata tanah itu berubah menjadi tepung lalu engkau bersedekah dengannya.”

Barangsiapa mengasihi hamba-hamba Allah, niscaya Allah Swt. mengasihinya, karena hamba-hamba itu tatkala mengasihi hamba-hamba Allah dengan perkataannya:”Andaikata tanah itu berubah menjadi tepung niscaya bisa mengenyangkan orang-orang, maka ia pun akan mendapatkan pahala sebagaimana apabila dilakukannya.”

Mengejar gelar hafidz

Mengejar gelar hafidz

Kesalahan pertama yang paling fatal bagi seorang penghafal al Qur’an adalah terkait niat dan ke ikhlasan. Jika niatnya dalam menghafal alQur’an salah serta keikhlasannya benar-benar tidak ada, sebesar dan sebanyak apapun keutamaan menghafal al Qur’an menjadi sesuatu yang tak bernilai baginya di akhirat. Salah satu bentuk ketidak ikhlasan seorang penghafal al Qur’an adalah ia hanya mengharap pujian dari orang lain, berharap orang lain menghormati dan menyanjungnya, atau menyebut-nyebut dengan gelar hafidz al Qur’an.

Hal yang pertama yang harus diperhatikan oleh seseorang sebelum menghafal al-Qir’an adalah mengikhlaskan niatnya semata-ata karena Allah Swt. Al Qurthubi (w. 671 H) di dalam tafsirnya Al Jami’ li Akam Al Qur’an menyatakan, yang artinya:

“Hal pertama yang harus diperhatikan oleh shahibul Qur’an adalah mengikhlaskan niat dalam mempelajari Al-Qur’an, yaitu samata-mata karena Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana telah kami sebutkan. Dan hendaknya ia mencurahkan jiwanya untuk membaca dalam sholat maupun di luar sholat, agar ia tidak lupa”.

Jika kita menghafal al-Qur’an karena ingin dipuji-puji oleh manusia, sebenarnya kita sedang beramal dengan amalan yang besar tetapi tidak memiliki pahala apa-apa dihadapan Allah swt. bahkan, hal itu membuat kita berdosa serta terancam siksa-Nya. Imam An Nawawi (w. 676 H.)- di dalam al Minhaj syarh Shahih Muslim Ibnu Al-Hajjaj menyatakan “Amalan seseorang yang hanya menginginkan pujian dari yang lain adalah amalan yang batil, tidak berpahala bahkan akan mendapatkan dosa”.

Sekalipun menghafal al-Qur’an adalah amalan yang mampu mengantarkan seseorang menuju surga-Nya, tapi jika tidak dibarengi dengan keikhlasakan niat semata-mata karena mengharap ridha Allah Swt., jangankan ia dapat masuk kedalam surga, bahkan mencium baunya saja tidak mampu.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Rasulullah bersabda Saw.pernah bersabda “Siapa menuntut yang semestinya ditujukan untuk mengharap keridhaan Allah, tetapi ia memperlajarinya hanya untuk meraih tujuan duniawi, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat” (Hr Abu Dawud no.3179)

Seseorang bisa-bisa saja merasa sudah ikhlas dalam menghafal Al-Qur’an. Namun, jika didalam hatinya masih ada harapan untuk dipuji-puji, atau masih tersimpan keinginan untuk dihormati karena Al-Qur’an yang sudah dihafalanya, sebenarnya keikhlasan tersebut terlah tersingkirkan oleh harapan dan keinginannya. Ibnal al-Qoyyuim al-Jauziyyah (w. 751 H) di dalam al Fawaid mengatakan “Iklas di dalam hati seseorang tidak mungkin menyatu dengan harapan akan pujian, sanjungan, dan keinginan terhadap apa yang dimiliki manusia, melainkan seperti air dengan api  yang tidak menyatu.”

Adapun seorang penghafal al-Qur’an, baik mengharapkan pujian dari orang lain maupun tidak, sebenarnya, pujian itu memang pantas didapatkan. Betapa tidak, amalan menghafal al-Qur’an adalah amalan yang istimewa, dan setiap mukmin pasti mengingingkannya. Namun, jika tujuannya hanya untuk mendapatkan pujian dari manusia, ia hanya akan mendapakan pujian tersebut tanpa pahala dari Allah Swt.  berbeda jika tujuannya ikhlas, hanya karena Allah, selain berhak mendapatkan pujian dari makhluk-Nya, ia juga akan mendapatkan pujian sekaligus pahala kebaikan yang berlimpah dari Rabbnya.

Kita harus menjaga hati ketika banyka orang lain memuji karena amalan yang kita lakukan. Ibn ‘Ajibah (w. 1224 H.)- di dalam Iqazl al-Himam fi Syarh al-Hikam mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memujimu tidaklah mengetahui dirimu kecuali yang nampak, sementara engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada Ulama yang mengatakan “Siapa yang begitu senang dengan pujian manusia, maka setan akan merasuk kedalam hatinya”.